Author Archives: Abu Ayyash

About Abu Ayyash

Searching for the truth

Japan Tsunami Donation Drive

Assalamualaikum wrm wbt,

Pihak AIMS Malaysia sedang mengumpulkan derma untuk disalurkan kepada pelajar-pelajar Malaysia di Jepun yang kini berada di fasa trauma dan kekurangan makanan selepas gempa bumi yang berlaku di Jepun tempoh hari. Sumbangan akan disalurkan kepada wakil AIMS di Jepun iaitu Dr. Amir Syahir yang merupakan mantan Presiden kepada Aspiring Malaysian Rijal (AMIR) yakni sebuah persatuan kebajikan pelajar di Jepun. Untuk menyumbang, sila salurkan ke

Maybank Islamic  : 162263191402 (Shazwan Abd Shukor)

Cimb Islamic        :  12120002359203 (Shazwan Abd Shukor)

Sila nyatakan sumbangan sebagai ‘Bencana-Jepun’. Segala bantuan daripada anda amatlah dihargai.

Sekian.

Team AIMS Malaysia

Leave a comment

Filed under JEPUN, Sana sini AIMS

Modal Utama Manusia

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

 

Modal setiap manusia di dunia ini adalah :

 

a.       Waktu yang singkat.

b.      Nafas yang terbatas.

c.       Hari-hari yang berbilang.

 

Barangsiapa yang menggunakan kesempatan dan saat-saat itu dalam kebaikan dan sentiasa beribadah maka, beruntunglah dia. Namun, sebaliknya siapa sahaja yang menyia-nyiakan semua itu maka ia telah rugi dan waktu pun tidak akan dapat kembali seperti sediakala.

 

Ada sebuah sya’ir Arab yang menggambarkan ciri-ciri waktu dengan bahasa yang begitu mendalam :

 

“Waktu adalah ibarat mata pedang, jika kamu tidak memotongnya maka ia akan memotong kamu.”

Waktu adalah salah satu dimensi dalam hidup manusia.

 

Ciri-ciri waktu adalah :

 

1.      Sentiasa bergerak secara cepat.

2.      Berlalu tanpa terasa.

3.      Tiba-tiba mendatangi secara mengejut.

 

Tidak hairanlah kenapa masyarakat Arab membuat kiasan cepatnya keadaan waktu dengan kilatan pedang yang menyambar agar kita dapat meresapi cara mengatur waktu yang baik di mana kita perlu belajar dari seorang pahlawan mengenai teknik bermain dan menggunakan sebilah pedang.

 

Alangkah ramai orang-orang yang rugi kerana mereka mengira bahwa hidup di dunia ini panjang waktunya.

 

Allah swt berfirman :

 

Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu untuk main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS Al-Mu’minun : 115)

Ramai juga orang-orang yang menganggap diri  mereka telah berbuat kebajikan, banyak berjuang dan berjasa kepada Islam sedangkan Allah swt  menyindir orang-orang yang bersikap demikian dalam FirmanNya :

 

“Iaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, sedang mereka telah menganggap telah berbuat kebaikan.” (QS Al Kahfi : 104)

 

Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari umur, sedangkan umur manusia tidak lebih dari beberapa puluh tahun. Lalu kelak ia akan ditanya di atas setiap detik waktu yang dilaluinya dan apa yang ia lakukan di saat ia bertemu dengan Allah swt.

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Tidak akan berganjak kedua tapak kaki hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan, serta tentang fizikalnya untuk apa dia pergunakan.” (HR At-Tirmizi)

Umur manusia adalah masa yang ia tanam di dunia, sedangkan masa penghasilannya adalah di akhirat dan oleh kerana itu, sungguh amat rugi jika manusia menyia-nyiakan waktunya dan membelanjakan modalnya untuk sesuatu yang tidak berguna.

 

Barangsiapa yang tidak mengetahui besarnya nilai waktu yang terluang, sungguh akan datang padanya suatu masa di mana akan diperlihatkan kepadanya tentang mahalnya nilai waktu serta nilai beramal di dalamnya di mana yang jelasnya, manusia akan menyesal dalam dua keadaan :

 

1.      Ia akan menyesal kerana keingkarannya terhadap nilai waktu.

2.      Ia akan menyesal kerana sedikit amalnya mengisi ruangan waktu tersebut.

 

Namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.

 

Ada juga di kalangan manusia yang begitu prihatin dengan waktu, bahkan dalam fikirannya waktu 24 jam sehari semalam itu terasa begitu sedikit, namun semuanya mereka habiskan untuk urusan dunia dan jika hal itu benar-benar dilakukan maka dia termasuk orang yang bodoh kerana dia hanya mempersiapkan untuk urusan dunia semata-mata (sesuatu yang singkat) dan meninggalkan urusan akhirat (sesuatu yang sangat abadi ).

 

Dia bekerja keras siang dan malam tetapi hasilnya tidak seimbang dengan kemanfaatan yang diperolehi untuk dirinya di mana paling tinggi nikmat itupun hanyalah sekadar ia mendapatkan nikmatnya makanan dilidahnya namun apabila ia sakit, semua makanan yang terasa nikmat itu akan menjadi pahit dan tidak menyelerakan.

 

Begitu juga ia terasa nikmat dengan mempunyai harta yang banyak di mana ia tidak menyangka bahwa harta itu tidak akan dapat dibawa bersamanya ketika mati dan itulah sesungguhnya gaya hidup orang-orang yang kafir, maka apakah kita mahu disebut dengan sebutan itu?

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Dunia ini penjara bagi orang Mukmin dan Syrga bagi orang kafir.” (HR Muslim, At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda :

 

”Syurga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci oleh manusia dan Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang di sukai Hawa nafsu” (HR Muslim, At Tirmizi dan Ahmad)

 

Kemudian Allah swt juga menegaskan didalam FirmanNya :

 

”Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan Neraka merupakan tempat tinggal mereka” (QS Muhammad :12)

Ciri-ciri waktu meliputi 3 perkara :

PERTAMA : WAKTU CEPAT BERLALU

 

Putaran dan pergantian waktu berlaku sangat cepat sekali bagaikan angin berhembus samada di waktu sedih ataupun gembira.

 

Jika dikatakan hari sukacita berlalu begitu cepat dan hari-hari duka bergerak begitu lambat, padahal itu hanyalah perasaan kita belaka dan bukan keadaan yang sebenarnya.

 

Allah swt menegaskan perkara ini dalam FirmanNya :

 

“Dan(Ingatlah)akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia)melainkan sesaat sahaja di siang hari (yang di waktu itu) mereka saling berkenalan).”(QSYunus : 45)

 

KEDUA : WAKTU YANG SUDAH BERLALU TIDAK AKAN BOLEH KEMBALI ATAU DIGANTI

 

Seorang penyair pernah bersenandung :

 

“Seseorang hanyalah pengenderai di atas bahu umurnya, berkelana mengikuti hari dan bulan, ia lalui siang dan malam harinya, semakin jauh dari kehidupan semakin dekat dengan kuburan.”

 

Alangkah malangnya orang yang berasa gembira jika umurnya bertambah dengan mengadakan acara ulang tahun kelahiran atau hari jadi yang tidak ada tuntunannya dari ajaran Islam.

 

Bagaimana dia boleh merasa senang hati sementara :

 

a.       Hari-harinya melenyapkan bulannya.

b.      Bulannya melenyapkan tahunnya.

c.       Tahunnya melenyapkan umurnya.

 

lalu berhentinya umur menghantarkan dirinya kepada kematian.

 

Bagaimana kita tidak merasa sedih dengan umur kita yang pergi tanpa dapat diganti?

 

Manusia sejak diciptakan terus berjalan sebagai musafir dan tidak ada tempat berhenti baginya selain syurga atau neraka.

KETIGA : WAKTU ADALAH HARTA YANG SANGAT MAHAL HARGANYA YANG DIMILIKI OLEH MANUSIA

 

Betapa ramainya orang-orang yang membuang waktunya dengan percuma, sibuk dalam perbicaraan yang tidak bermanfaat sementara umurnya terus melaju menuju kematian tetapi ia tidak menyedarinya.

Bahkan ada orang yang umurnya 60 tahun yang sepatutnya membuatkan ia berwaspada untuk :

 

1.      Sentiasa mengejar pahala.

2.      Menjauhi maksiat.

3.      Segera bertaubat.

 

Namun, ia masih sahaja berkubang dalam lumpur kemaksiatan dan dosa.

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Allah swt memberi kesempatan kepada seseorang dengan ditangguhkan umurnya hingga mencapai umur 60 tahun.” (HR Bukhari)

PANDANGAN SALAFUS SOLEH MENGENAI WAKTU

 

Abu Darda’ ra berkata :

 

“Seandainya bukan kerana tiga perkara, tentu aku tidak suka hidup, meskipun hanya sehari:

1.      Kehausan kepada Allah di bawah panas terik siang hari.

2.      Sujud kepada Allah swt di tengah malam.

3.      Duduk-duduk bersama orang-orang soleh yang sentiasa memilih yang baik-baik dalam berbicara sebagaimana memilih kurma yang berkualiti.”

Ibrahim Al Harbi seorang Muhaddits berkata :

 

“Aku telah menemani Imam Ahmad Bin Hanbal selama 20 tahun, samada di musim gugur atau di musim bunga, musim panas atau musim dingin, malam dan siangnya sungguh aku tidak mendapatinya suatu hari kecuali hari itu lebih bertambah kebaikannya dari hari kelmarin.”

Maka barang siapa hari ini seperti hari kelmarin maka ia adalah orang yang tertipu dan barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kelmarin maka ia adalah orang yang tercela.

 

Marilah mulai dari sekarang untuk merubah perbuatan kita yang selama ini keliru kerana Rasulullah saw bersabda :

 

”Setiap anak adam pasti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang mahu memperbaiki kesalahannya”. (HRAhmad, At Tirmidzi dan Ad Darimi)

 

 

Ramai orang yang berniat untuk bertaubat, berbuat baik, meninggalkan kemaksiatan dan sebagainya akan tetapi semuanya itu hanya terhenti pada niat, keinginan, harapan dan angan-angan semata-mata.

 

Keputusan itu kini ada di tangan kita samada :

 

1.      Meniti jalan Allah swt dengan melakukan segala perintahNya.

2.      Bergerak di jalanNya dengan menjauhi segala laranganNya.

3.      Tetap tenggelam dalam kemaksiatan dalam melalui lorong kehidupan.

 

Marilah kita manfaatkan segala kesempatan untuk menambah kualiti hidup kita. Di samping sentiasa bertaqarrub kepada Allah dengan berbagai ibadah, kita juga hendaklah sentiasa bersama dengan orang-orang yang soleh, menghadiri majlis bersama mereka dan mendengar nasihat-nasihat mereka serta meneladani kehidupan mereka agar perjalanan kehidupan kita lebih terarah kerana waktu yang masih tersisa untuk kita amat sedikit sementara kita berada di lorong kehidupan yang akan segera berakhir.

 

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah segala kesalahan kami. Berilah kami kesedaran untuk kami sentiasa menghargai waktu yang Engkau kurniakan kepada kami sebagai modal utama untuk kami isi dan penuhi dengan amal-amal yang soleh yang akan menjadi bekalan kepada kami dalam perjalanan menujuMu di akhirat nanti.

 

Ameen Ya Rabbal Alameen

 

Wan Ahmad Sanadi Wan Ali

Pengerusi JK tarbiah IKRAM Shah Alam

 


Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Program Solidariti Aqsa Syarif Untuk Gaza, Palestin

Subang Jaya, Februari 2011 – Dalam bulan Februari ini, pelajar-pelajar dari Kolej Teknologi Timur (KTT), Sepang telah menghadiri sebuah program Gaza, Palestin bersama Aqsa Syarif. Program ini telah diadakan di Pejabat IKRAM Subang Jaya. Presiden Islamic Society Jabalia (ISJ) Gaza, Palestin merupakan tetamu kehormat yang telah memberi pelbagai info terkini mengenai situasi genting di Gaza. Para pelajar KTT dan hadirin yang menghadiri program ini telah ditontonkan dengan pelbagai video tentang semangat warga Gaza dari usia muda sehingga yang mencecah 72 tahun (seorang nenek) dalam mempertahankan tanah air mereka dengan apa jua cara pun. Ramai yang telah menemui syahid dalam serangan terhadap pihak israel. Pada akhir program, pihak Aqsa Syarif mengajak para hadirin untuk membawa pulang tabung bantuan Gaza untuk diagihkan dan diisi. Alhamdulillah, berbekalkan semangat yang tinggi dalam menghayati pengorbanan warga Gaza, pelajar-pelajar KTT bertekad untuk membawa pulang 4 buah tabung untuk diisi sehingga penuh di KTT! Mereka juga sempat bergambar dengan tetamu kehormat program ini dan menanyakan beberapa soalan kepadanya selepas program tamat. Sekian.

Jabali

Delegasi dari KTT bersama tetamu kehormat

Leave a comment

Filed under INDIA, Sana sini AIMS

Program Penghayatan Ukhuwah Melalui Pengenalan Kepada Alam

Bukit Cherakah (Taman Botani Shah Alam), 20 Februari 2011 – Tanggal Ahad, 20 Februari 2011, warga kolej persediaan ke India dan the Royal College of Medicine Perak (RCMP) khasnya dari Kolej Teknologi Timur (KTT), Sepang dan Management & Science University (MSU), Shah Alam telah bertemu bagi mengenali serta merapatkan ukhuwah sesama masing-masing. Pelajar-pelajar yang bakal melanjutkan pelajaran ke India dalam bidang perubatan dapat berjumpa dengan rakan “counterpart” masing-masing bagi memulakan lembaran baru persahabatan di samping memudahkan mereka untuk melaksanakan aktiviti bersama kelak. Pelajar-pelajar persediaan ke RCMP turut serta memeriahkan aktiviti ini. Ini dapat menyediakan peluang kepada mereka untuk mengenali sahabat-sahabat yang bakal melanjutkan pelajaran dalam bidang perubatan samada dalam mahupun luar negara.

Tema utama di sebalik merapatkan ukhuwah adalah mengenai alam. Alam adalah elemen yang paling utama dalam mengenali Penciptanya, Allah swt. Oleh itu, pemilihan Bukit Cherakah merupakan lokasi yang sesuai bagi menikmati serta menghayati keindahan alam. Kami ingin “menyadurkan” ukhuwah yang terbina melalui penghayatan terhadap alam bagi mendekatkan diri kepada Penciptanya. Manusia memang mahu mendekatkan diri kepada alam yang damai dan tenteram terutamanya bagi melepaskan segala kesibukan dunia di kota. Inilah yang dinamai fitrah atau sunnatullah. Dari sinilah manusia dapat mengenali dan memahami Penciptanya dengan lebih mendalam dan terperinci.

Antara aktiviti yang telah kami lakukan adalah melawat taman haiwan. Kami sempat memberi makanan kepada beberapa ekor rusa dan membelai kuda-kuda yang agak jinak. Kami juga bergambar dengan haiwan-haiwan seperti landak, burung kakak tua, rusa dan kuda. Haiwan-haiwan lain yang terdapat dalam taman ini ialah seladang, angsa, kucing hutan (yang agak garang), iguana dan burung merpati.

Seterusnya kami menuju ke Empangan Sungai Baru, yang terletak di hujung taman Bukit Cherakah. Di situ, kami meredah masuk ke dalam hutan dan berehat di tengah-tengah perjalanan sambil menggunakan pancaindera seperti telinga dan mata bagi menghayati serta memahami tujuan penciptaan alam. Kami pun mula mengenali sesama sendiri dengan lebih mendalam ketika berehat.

Selepas keluar dari kawasan hutan, kami ke kawasan kelong di Tasik Empangan Sungai Baru untuk memberi makanan kepada ikan peliharaan. Begitu kukuhnya kelong tersebut sehingga dapat menampung berat kami semua!! Pada mulanya memang agak menakutkan apabila kami berjalan di atas jalan kelong yang lebarnya hanya boleh memuatkan seorang sahaja untuk melaluinya. Tambah lagi dengan kelong tersebut yang sentiasa bergoyang. Semuanya dapat memberi makanan yang secukupnya kepada ikan-ikan yang kelihatan begitu lapar. Setelah itu, kami pun makan tengah hari di dua buah pondok yang terletaknya di sebelah tasik tersebut.

Setelah melaksanakan solat Zuhur, kami bergambar beramai-ramai. Masing-masing bersalam-salaman dan berdakap-dakapan sebelum pulang ke kolej dengan harapan supaya aktiviti susulan dapat dilaksanakan bersama lagi. Sekian.

India

Gambar Kenangan

Leave a comment

Filed under INDIA

Ubah diri tuju kemenangan

Untuk sebuah perubahan – Fathul Jihad

Jom berubah menjadi lebih berani!

Team AIMS Malaysia

Leave a comment

Filed under Renungan

Futsal AIMS Asia Timur

Shah Alam, 21 Januari 2011 – Tanggal 21 Januari 2011, AIMS telah menganjurkan program Futsal untuk pelajar di semua Pusat Persediaan Jepun(PPJ). Program ini telah mendapat sambutan yang amat memberansangkan daripada pelajar-pelajar PPJ dengan penyertaan seramai 62 orang . Peserta terdiri daripada JAD (Japanese Associate Degree Programme), IBT (Institut Bahasa Teikyo) , AAJ (Ambang Asuhan Jepun) dan KTJ-INTEC (Kolej Teknikal Jepun), disamping peserta daripada A-Level Programme, dan KPJ.

Program ini telah dijalankan di Frenzy Futsal Seksyen 15 Shah Alam. Di samping bertujuan membina peribadi muslim yang sihat tubuh badan, program ini bertujuan merapatkan ukhuwwah antara pelajar-pelajar yang akan ke Jepun dengan merentasi pusat persediaan dan batch (senpai-kohai*).

Program bermula pada pukul 10 pagi dimana peserta diberi penerangan tentang program , sesi tazkirah ringkas dan pembahagian kumpulan oleh Ahli AIMS. Peserta dibahagikan kepada 10 Kumpulan mengikut pusat persediaan masing-masing dengan setiap kumpulan mengandungi 6 orang pemain.

Acara kemuncak adalah perlawanan persahabatan antara pemenang di peringkat kumpulan bertemu dengan Ahli AIMS dan berkeputusan 3-1 memihak kepada Ahli AIMS.

Rata-rata peserta berpuas hati dengan program yang dijalankan dan berharap lebih banyak program sebegini diadakan pada masa akan datang.

Program diakhiri dengan ucapan penutup oleh Akhi Munzir selaku Mas’ ul program kali ini dan juga sesi bergambar beramai-ramai. Terima Kasih diucapkan kepada semua yang menjayakan program ini dan akhir kata dari kami.. おつかれさまでした。。

Wassalam

Team AIMS cawangan Asia Timur

Kosa kata* (Jepun : Melayu):

Senpai : Senior

Kohai : Junior

 

2 Comments

Filed under Aktiviti AIMS, JEPUN

Tadabbur pintu kefahaman

Dipetik dari Pertubuhan IKRAM Malaysia,

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam menghabiskan sebahagian besar waktunya di hadapan‘mushaf’ untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya berulang kali, bahkan saling berlumba-lumba untuk mengkhatamkan sebanyak-banyaknya.

Tidak diragukan lagi usaha seperti ini mengandungi tujuan yang positif dari beberapa seginya seperti :

  1. Perhatian kaum muslimin terhadap kitab suci mereka.
  2. Kecintaan dan keterikatan mereka terhadapnya.

Namun, sangat sayang sekali bahwa yang menjadi pusat perhatian mereka hanya tertumpu kepada huruf-huruf dan lafadz Al-Qur’an sahaja tanpa memahami isi serta makna lafadz tersebut yang boleh menjadikan seseorang istiqamah terhadap perintah-perintah Allah dan berpegang teguh di jalanNya yang lurus sebagaimana firman Allah swt :

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (QS Al-Isra’ : 9)

Namun ternyata, kita sangat jauh dari apa yang dikehendaki oleh Al-Qur’an.

Sebagai bukti nyata, tatkala seseorang di antara kita membaca ayat demi ayat, surah demi surah dan mengkhatamkan berkali-kali, akan tetapi bacaannya itu tidak meninggalkan jejak pada perilaku dan akhlaqnya.

Bahkan jika kita menanyakan kepada mereka apa yang dapat mereka renungkan dari ayat-ayat yang dibaca, niscaya kita tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa dari mereka bahkan yang penting bagi mereka hanya mengumpulkan pahala yang banyak sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dinilai dengan 10 semisalnya (10 kebaikan), saya tidak mengatakan ‘alif’, ‘lam’, ‘mim’ satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Hadits hasan, riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud)

JANGAN SEKADAR MEMBACA

Sebenarnya bukan seperti itu yang diinginkan oleh Rasulullah saw.

Kalaulah Al-Qur’an hanya berkaitan dengan banyaknya pahala yang akan kita dapatkan ketika membacanya, maka yang lebih baik adalah kita mengalihkannya kepada amalan lain yang akan memberi kita pahala yang lebih besar lagi sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :

“Barangsiapa masuk ke sebuah pasar kemudian mengucapkan kalimat ‘laa ilaaha illa-llah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumitu, wa huwa hayyun laa yamuutu bi yadihil khoir wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir. (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, kepunyaanNya kerajaan langit dan bumi, bagiNya lah segala puji yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia itu hidup tidak akan mati, digenggamanNya lah semua kebaikan dan Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu), dicatat baginya beribu-ribu kebaikan dan dihapus darinya beribu-ribu kesalahan dan dia akan diangkat beribu-ribu darjat dan akan dibangunkan untuknya rumah di syurga” (Hadith di dalam Shahih Jami’ As Shaghir)

Ini bukanlah bererti kita meremehkan pahala tilawah Al-Qur’an, akan tetapi, kita ingin meluruskan kembali persepsi terhadap cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur’an bahwa sebenarnya nilai dan barakah Al-Qur’an terdapat pada makna yang dikandungnya, manakala lafadz merupakan wasilah untuk mengetahui maknanya.

Oleh kerana itu, Rasulullah saw mengarahkan dan membangkitkan semangat membaca Al-Qur’an dengan diberi pengharapan terhadap pahala yang besar sepertimana sebuah perumpamaan:

‘Seorang ayah yang memberi wang saku untuk anaknya agar dia tekun belajar dalam waktu yang berjam-jam tentu sahaja dia tidak bermaksud agar anaknya hanya duduk di kerusi dan membolak-balikkan halaman buku tanpa mendapatkan kefahaman, akan tetapi tujuan si bapa tadi adalah untuk memberi motivasi agar anaknya terus belajar dengan serius supaya dia menjadi orang yang berjaya dalam hidup.’

Bila kita memperhatikan tujuan utama diturunkan Al-Qur’an dan kita hubungkan antara perumpamaan tadi dengan pahala besar yang diberikan oleh Allah Yang Maha Bijaksana atas bacaan Al-Qur’an tersebut, maka kita akan dapati bahwa tujuan dari pahala-pahala tersebut merupakan motivasi bagi kaum muslimin agar sentiasa dekat dengan Al-Qur’an supaya :

  1. Kita memperolehi petunjuk dan hidayah melalui Al-Qur’an.
  2. Kita mendapatkan kesembuhan jiwa melalui ubat dan ramuannya.

Adapun kalau kita mendekatkan padanya tanpa tujuan yang jelas kecuali hanya ingin mendapatkan pahala bacaan semata-mata tanpa memperhatikan makna yang dikandungnya, maka amat jelas bahwa kita akan rugi dengan interaksi yang kaku ini dan Al-Qur’an tidak akan menjadi hidayah bagi kita.

TADABBUR, SATU-SATUNYA JALAN

Sebenarnya nash-nash Al-Qur’an sangat jelas dalam menekankan akan kepentingan bertadabbur ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, supaya tadabbur itu dijadikan sebagai wasilah untuk memahami perintah Allah dan mempengaruhi diri kita untuk kemudiannya diamalkan.

Ini sebagaimana firman Allah swt :

“Kitab ini kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS Shaad : 29)

Firmana Allah lagi :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad : 24)

Untuk memahami pesanan-pesanan Al-Qur’an, kita mestilah membiasakan diri untuk membacanya dengan penuh tadabbur.

Oleh kerana itu Rasulullah saw menasihati Abdullah bin Amr bin Ash ra supaya tidak mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari sebagaimana sabda baginda :

“Tidak akan faham seseorang yang membacanya (Al-Qur’an) kurang dari tiga hari.” (Hadits dalam Shahih Jami’ As Shaghir)

Bukankah kita selalu bersungguh-sungguh untuk memahami setiap perkataan yang kita baca atau kita dengar?

Jadi, mengapa kita tidak praktikkan kaidah ini terhadap Al-Qur’an?

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata :

“Sudah menjadi maklum bahwa setiap perkataan itu, tujuannya untuk dapat difahami, bukan untuk sekadar mengetahui lafadz-lafadznya sahaja, maka Al-Qur’an lebih utama (untuk difahami) dari semua itu.”

Perkara ini juga dikuatkan oleh Ustaz Hasan Al-Hudhaibi yang berkata :

“Yang menjadi panduan seseorang dalam tilawah Al-Qur’an bukanlah seberapa banyak ia membacanya, namun sejauh mana ia dapat mengambil manfaat dari hasil bacaannya. Al-Qur’an tidak akan turun sebagai barakah kepada Nabi saw dengan lafadz-lafadz yang tidak bermakna. Sesungguhnya barakah Al-Qur’an itu adalah pada saat kita mengamalkannya, dan saat kita mengambilnya sebagai manhaj hidup yang menerangi jalan orang-orang yang menempuhnya. Maka ketika kita membaca Al-Quran, mestilah diniatkan untuk merealisasikan kandungan makna tersebut dan itu hanya boleh dilakukan dengan mentadabbur ayat-ayatnya, memahami dan mengamalkannya.”

TADABBUR, WASILAH BUKAN TUJUAN

Sudah tentulah seseorang yang menyertai tilawah  di atas dasar kefahaman dan tadabbur sebagaimana Imam Al-Qurtubi menyatakan dalam tafsirnya tentang ayat :

“Apakah kamu tidak mentadabbur Al-Qur’an. Kalaulah ia bukan dari sisi Allah tentu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS An-Nisa’ : 82)

Ia mengatakan :

“Ayat ini menunjukkan atas (hukum) wajibnya mentadabbur Al-Qur’an untuk mengetahui maknanya.”

Maka tadabbur Al-Qur’an, sekalipun diwajibkan ke atas para pembacanya atau atas pendengarnya, tetapi tadabbur itu sendiri bukanlah merupakan tujuan utama melainkan ia adalah wasilah untuk membangkitkan kembali mu’jizat agung yang dikandungnya dan merealisasikan mu’jizat itu pada jiwa-jiwa yang menerimanya.

MUKJIZAT YANG TERAGUNG

Kita semua tahu bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita merupakan mukjizat yang besar dan agung yang datang dari Allah, lebih agung dari tongkat Nabi Musa as dan dari unta Nabi Soleh as dan dari mukjizat-mukjizat lainnya.

Lalu apakah rahsia yang menjadikannya lebih tinggi dari mukjizat-mukjizat sebelumnya?

Sebahagian menjawab bahwa mukjizat Al-Qur’an tersembunyi dalam :

  1. Ushlub dan gaya bahasanya.
  2. Cabaran terhadap seluruh umat manusia yang tidak mampu membuat yang semisal dengannya.
  3. Kesesuaian untuk setiap zaman, tempat dan masa.

Semua jawaban ini benar dari beberapa segi kemukjizatan Al-Qur’an, akan tetapi ada rahsia kemukjizatannya yang lebih besar iaitu dalam keajaibannya untuk mengubah.

Mengubah manusia walau macam mana sekalipun dan dari lingkungan yang bagaimanapun sekalipun bahkan ia mengubah mereka menjadi manusia baru yang lebih ‘alim (berpengetahuan luas), ‘abid (tekun beribadah) dalam segala perkara dan keadaannya sehingga membentuk keperibadian yang digambarkan oleh Al-Qur’an :

“Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”(QS Al-An’am : 162)

KEAJAIBAN ITU BERLAKU

Perubahan yang berlaku melalui Al-Qur’an bermula dari masuknya cahaya Al-Qur’an ke hati, maka setiap kali cahaya tersebut menerangi suatu bahagian dari bahagian-bahagian hati, kaburlah kegelapan yang disebabkan oleh kemaksiatan, kelalaian dan mengikuti hawa nafsu.

Sedikit demi sedikit bertambahlah cahaya ke dalam hati dan merangkaklah kehidupan hati di setiap sisinya memulai hidup baru yang belum pernah berlaku sebelumnya.

Allah swt berfirman :

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia kami hidupkan dan kami berikan ia cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan dengan orang yang keadaannya berada dalam keadaan gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar daripadanya? (QS Al-An’am : 122)

Al-Qur’an merupakan Ruh yang menyebar dalam seluruh penjuru hati maka ia menghidupkan akan setiap hati yang mati. Allah SWT berfirman :

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Al-Qur’an) dengan perintah kami . Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami tunjuki siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami”. (QS As-Syura : 52)

Ketika Ruh tersebut melekat ke dalam hati dan setiap penjurunya dipenuhi dengan cahaya iman, maka ia mampu mengusir hawa nafsu dan rasa cinta terhadap dunia dan kemudiannya akan mempengaruhi perilaku seorang hamba dan tujuan hidupnya.

Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya ketika ia ditanya tentang makna‘insyirah shadr’ (keterbukaan dada) dalam firmanNya :

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (QS Az-Zumar : 22)

Nabi saw menjelaskan :

“Apabila cahaya iman masuk terbukalah hatinya” (untuk menerima kebenaran).”

Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, apa ciri-cirinya?”

Rasulullah saw bersabda :

“Kerinduan kepada kampung keabadian, merasa jauh dari dunia yang menipu, bersiap-siap untuk menghadapi kematian sebelum ia datang.”

KEHEBATAN MUKJIZAT ALQUR’AN

Allah swt berfirman :

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung ganang dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau oleh kerananya, orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Qur’an itulah dia).”  (QS Ar Ra’ad : 31)

Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat kuat yang tidak mungkin kita bayangkan di mana Allah mengumpamakan kepada kita dengan suatu contoh :

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al-Hasyr : 21]

Gunung, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurtubi :

“Apabila Al-Qur’an ini diwahyukan kepadanya dengan susunan dan gaya bahasa yang indah yang mengandungi pelajaran-pelajaran berharga, maka kamu akan melihat gunung yang keras dan kukuh itu pecah dan hancur berkeping-keping kerana rasa takut kepada Allah”.

Dalam contoh di atas, kita diperintahkan untuk merenungkan kekuatan pengaruh yang dimiliki oleh Al-Qur’an agar menjadi hujjah bagi semua manusia dan mematahkan dalih orang-orang yang beralasan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mentadabbur Al-Qur’an.

JIN PUN BERIMAN

Di antara bukti kemukjizatan Al-Qur’an dan kekuatannya yang dahsyat dalam mempengaruhi adalah sebagaimana yang berlaku terhadap sekelompok jin ketika ia mendengarkan ayat Al-Qur’an.

Allah swt berfirman :

“Dan ingatlah ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an , maka tatkala mereka mengghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: “Diamlah kamu untuk mendengarkannya”. Ketika pembacaannya telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk memberi peringatan) mereka berkata : ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami , terimalah (seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan ) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahqaaf : 29-32)

BUKTI NYATA YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN

Al-Qur’an memiliki pengaruh yang luar biasa pada setiap jiwa yang menyambutnya dan yang selalu berinteraksi dengan sebenar-benarnya dan menjadikannya sebagai petunjuk dan ubat.

Maka berlakulah perubahan yang besar-besaran dalam keperibadiannya, sebuah kehidupan dengan rancangan dan bentuk baru yang lebih dicintai dan diridhai oleh Allah swt.

Jika kita ragu akan hal ini, marilah kita lihat apa yang berlaku kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Mereka adalah orang-orang yang berada dalam kesesatan dan kejahiliyahan yang nyata sebelum mereka masuk Islam. Kemudian, dalam keadaan yang demikian mereka masuk ke dalam “Projek Al-Qur’an”dan kemudiannya keluar sebagai manusia-manusia baru yang menjadi kebanggaan umat manusia sampai saat ini.

Ini merupakan sesuatu yang menakjubkan sebagai bukti bagi kemampuan kitab ini untuk mengubah apa yang ada dalam jiwa seseorang sampai ke akarnya.

Kalau bukan demikian, siapa yang percaya bahwa sebuah umat yang hidup di tengah padang pasir, tidak mempunyai alas kaki, berpakaian sederhana, miskin, tidak dicatat dalam sejarah, yang dianggap remeh oleh kekuatan-kekuatan tamadun pada masa itu, apabila datangnya Al-Qur’an, ia :

  1. Mengubah dan membangun kembali keperibadian mereka dengan rancangan, bentuk, dan kehidupan yang benar-benar baru.
  2. Mengangkat cita-cita dan semangat putera-putera umat itu ke langit.
  3. Mengikatkan hati-hati mereka kepada Allah agar hanya Dialah menjadi satu-satunya tujuan.

Semua ini berlaku dalam waktu yang begitu singkat iaitu hanya dalam hitungan tahun, kafilah ini berubah dengan sangat dramatik.

Maka apakah yang berlaku setelah itu?

Janji Allah menjadi sesuatu yang nyata, sebagaimana yang dijanjikannya terhadap hamba-hamba-Nya ketika mereka telah menunaikan kewajiban untuk memperbaiki diri sendiri.

Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri apa yang ada dalam diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’ad : 11)

Dalam hitungan tahun, muncullah sebuah kekuatan baru dari kegersangan padang pasir untuk menghancurkan dinasti-dinasti zalim.

Bertukarlah timbangan kekuatan dan kemudian kepimpinan umat manusia beralih ke tangan mereka.

“Maka siapakah yang lebih menepati janji (selain) Allah?” (QS At-Taubah : 111)

BILA PERUBAHAN ITU BERLAKU?

Yang membuatkan Al-Qur’an mampu mengubah para sahabat Rasulullah saw secara drastik disebabkan :

  1. Interaksi yang baik antara Sahabat ra dengan Al-Qur’an setelah mereka mengetahui betapa berharganya Al-Qur’an dan mereka betul-betul memahami untuk apa Al-Qur’an diturunkan.
  2. Mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai guru sekaligus qudwah bagi mereka.

Sungguh, Rasulullah saw telah menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan perilakunya dan men’shibghah’ kehidupannya dengan Al-Qur’an seakan-akan baginda adalah Al-Qur’an yang berjalan di muka bumi, membenci apa yang dibenci oleh Al-Qur’an dan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Al-Qur’an.

Rasulullah saw membaca Al-Qur’an dengan perlahan tidak tergesa-gesa, ia melantunkan dengan indah sebuah surah dalam Al-Qur’an sehingga dirasakan bacaannya lebih panjang dari surah itu sendiri.

Pernah Rasulullah saw qiyamullail sepanjang malam dengan mengulang-ulangi satu ayat dalam solatnya yang berbunyi :

“Jika Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hambaMu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Maaidah : 118)

Bahkan kita akan terpegun kagum terhadap pengaruh Al-Qur’an yang sangat kuat ke atas diri Rasulullah saw ketika baginda memberitakan kepada kita :

“Surah Hud dan seumpamanya (Al-Haaqqah, Al-Ma’arij, At-Takwir dan Al-Qaariah ) telah membuat rambutku beruban sebelum waktunya.”

Adapun pengaruh Al-Qur’an ke atas jiwa para sahabat radhiyallahuanhum, maka sebaik-baik bukti adalah ketika kehidupan mereka berganti dan tujuan berubah arah.

Jika kita ingin mengetahui kehidupan para sahabat dengan Al-Qur’an dan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur’an terhadap mereka, maka lihatlah Abbad bin Bisyr yang saling bergantian berjaga malam bersama Ammar bin Yasir dalam peperangan Dzaturriqa’.

Ia meminta Ammar dengan secara memaksa untuk tidur di awal malam agar ia dapat berjaga ketika ia melihat tempat tersebut aman, ia pun solat. Maka datanglah salah seorang musyrikin memanahnya, ia pun mencabutnya dan meneruskan solatnya. Kemudian musyrik tersebut melemparkan panahan yang kedua, ia cabut lagi dan menyempurnakan solatnya. Apabila datang panahan yang ketiga kalinya, maka ia cabut dan menghentikan tilawah kemudian ia ruku’ dan membangunkan Ammar sambil sujud. Maka ketika Ammar menanyakan kenapa ia tidak membangunkannya sejak terlemparnya panahan yang pertama kali, ia pun menjawab :

“Sesungguhnya aku ketika itu sedang membaca satu surah dan aku tidak suka menghentikannya sampai aku menyempurnakannya, ketika terus menerus orang itu memanahku aku pun ruku’ dan membangunkanmu. Demi Allah, kalau bukan kerana takut menyia-nyiakan perintah Rasulullah saw untuk menjaga perbatasan, tentu aku sudah terbunuh sebelum aku menghentikan bacaan atau menyelesaikannya.”

BARAKAH AL-QUR’AN

Sesungguhnya, nilai keagungan Al-Qur’an itu terdapat pada makna-maknanya dan kemampuannya untuk :

  1. Mengadakan perubahan bagi pembacanya.
  2. Merancang kembali cara berfikir akalnya.
  3. Membangkitkan ruh dalam hatinya.
  4. Mendidik jiwanya agar tumbuh menjadi seorang yang alim kepada Allah.
  5. Beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan dengan bashirah mata hatinya.

Perkara di atas tidak akan benar-benar berlaku dengan hanya sekadar membaca sahaja, walaupun ia mengkhatamkannya beribu kali.

Ini diperkuatkan oleh para sahabat radhiyallahu anhum apabila dikatakan kepada Sayyidatina Aisyah ra :

“Sesungguhnya di antara orang-orang ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dua atau tiga kali dalam satu malam”, ia pun berkata: “Mereka membacanya tapi sebenarnya mereka tidak membaca, sungguh Rasulullah saw solat tahajjud semalam penuh, beliau membaca surah Al-Baqarah disambung surat Ali Imran dan surah An-Nisa’ tidak melalui satu ayat pun tentang khabar gembira kecuali ia berdoa pada Allah memintanya, dan tidak melalui satu ayat pun tentang ancaman kecuali ia berdoa agar dijauhkan darinya”.

Dari Abi Jasrah ia berkata, aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur’an dengan cepat dan aku mengkhatamkannya dalam tiga hari”.

Ibnu Abbas pun berkata:

“Sungguh, membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam kemudian aku mentadabburnya dan aku tartilkan bacaannya, lebih aku sukai daripada aku membaca seperti yang kamu katakan.”

Ibnu Mas’ud berwasiat :

“Janganlah kau membaca Al-Qur’an secepat kau membaca sya’ir, atau seperti buah kurma yang berguguran dari tangkainya, berhenti dan renungkanlah keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hatimu dengannya dan janganlah menjadikan akhir surah sebagai pusat perhatianmu.”

Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Imam Al-Ajri dalam bukunya ‘Akhlaq Hamalatil-Qur’an’ (Akhlaq Penghafal Al-Qur’an) :

“Sedikit mempelajari Al-Qur’an kemudian merenungkannya dan mentadabburnya lebih aku sukai daripada aku membaca banyak tanpa mentadabbur dan mentafakur, dan ayat-ayat Al-Qur’an dengan jelas menunjukkan demikian, begitu juga sunnah dan perkataan para pemimpin umat Islam”.

Imam Mujahid ditanya antara seseorang yang membaca surah Al Baqarah dan Ali Imran dengan seseorang yang membaca Al Baqarah sahaja dengan bacaan yang sama panjangnya, ruku’ mereka sama, dan sujud mereka sama, mana antara mereka yang lebih utama?

Imam Mujahid pun berkata :

“(Yang lebih utama) yang membaca Al Baqarah sahaja, kemudian ia membaca :

“Dan Al-Qur’an itu kami turunkan secara beransur-ansur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia.” (QS Al-Isra’ : 106)

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membaca dan mentadabbur Al-Qur’an sehingga ianya menambah kefahaman, memberi kesan kepada hati dan akhirnya mengubah kehidupan kami ke arah tujuan dan matlamat yang telah Engkau gariskan. Jauhkanlah kami dari sikap membaca secara harfiah semata-mata namun hati kami lalai dari memperhatikan dan merenung makna di sebalik ayat-ayat tersebut.

Ameen Ya Rabbal Alameen

WAS


 

Leave a comment

Filed under Tazkirah