Category Archives: Renungan

Modal Utama Manusia

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

 

Modal setiap manusia di dunia ini adalah :

 

a.       Waktu yang singkat.

b.      Nafas yang terbatas.

c.       Hari-hari yang berbilang.

 

Barangsiapa yang menggunakan kesempatan dan saat-saat itu dalam kebaikan dan sentiasa beribadah maka, beruntunglah dia. Namun, sebaliknya siapa sahaja yang menyia-nyiakan semua itu maka ia telah rugi dan waktu pun tidak akan dapat kembali seperti sediakala.

 

Ada sebuah sya’ir Arab yang menggambarkan ciri-ciri waktu dengan bahasa yang begitu mendalam :

 

“Waktu adalah ibarat mata pedang, jika kamu tidak memotongnya maka ia akan memotong kamu.”

Waktu adalah salah satu dimensi dalam hidup manusia.

 

Ciri-ciri waktu adalah :

 

1.      Sentiasa bergerak secara cepat.

2.      Berlalu tanpa terasa.

3.      Tiba-tiba mendatangi secara mengejut.

 

Tidak hairanlah kenapa masyarakat Arab membuat kiasan cepatnya keadaan waktu dengan kilatan pedang yang menyambar agar kita dapat meresapi cara mengatur waktu yang baik di mana kita perlu belajar dari seorang pahlawan mengenai teknik bermain dan menggunakan sebilah pedang.

 

Alangkah ramai orang-orang yang rugi kerana mereka mengira bahwa hidup di dunia ini panjang waktunya.

 

Allah swt berfirman :

 

Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu untuk main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS Al-Mu’minun : 115)

Ramai juga orang-orang yang menganggap diri  mereka telah berbuat kebajikan, banyak berjuang dan berjasa kepada Islam sedangkan Allah swt  menyindir orang-orang yang bersikap demikian dalam FirmanNya :

 

“Iaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, sedang mereka telah menganggap telah berbuat kebaikan.” (QS Al Kahfi : 104)

 

Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari umur, sedangkan umur manusia tidak lebih dari beberapa puluh tahun. Lalu kelak ia akan ditanya di atas setiap detik waktu yang dilaluinya dan apa yang ia lakukan di saat ia bertemu dengan Allah swt.

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Tidak akan berganjak kedua tapak kaki hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan, serta tentang fizikalnya untuk apa dia pergunakan.” (HR At-Tirmizi)

Umur manusia adalah masa yang ia tanam di dunia, sedangkan masa penghasilannya adalah di akhirat dan oleh kerana itu, sungguh amat rugi jika manusia menyia-nyiakan waktunya dan membelanjakan modalnya untuk sesuatu yang tidak berguna.

 

Barangsiapa yang tidak mengetahui besarnya nilai waktu yang terluang, sungguh akan datang padanya suatu masa di mana akan diperlihatkan kepadanya tentang mahalnya nilai waktu serta nilai beramal di dalamnya di mana yang jelasnya, manusia akan menyesal dalam dua keadaan :

 

1.      Ia akan menyesal kerana keingkarannya terhadap nilai waktu.

2.      Ia akan menyesal kerana sedikit amalnya mengisi ruangan waktu tersebut.

 

Namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.

 

Ada juga di kalangan manusia yang begitu prihatin dengan waktu, bahkan dalam fikirannya waktu 24 jam sehari semalam itu terasa begitu sedikit, namun semuanya mereka habiskan untuk urusan dunia dan jika hal itu benar-benar dilakukan maka dia termasuk orang yang bodoh kerana dia hanya mempersiapkan untuk urusan dunia semata-mata (sesuatu yang singkat) dan meninggalkan urusan akhirat (sesuatu yang sangat abadi ).

 

Dia bekerja keras siang dan malam tetapi hasilnya tidak seimbang dengan kemanfaatan yang diperolehi untuk dirinya di mana paling tinggi nikmat itupun hanyalah sekadar ia mendapatkan nikmatnya makanan dilidahnya namun apabila ia sakit, semua makanan yang terasa nikmat itu akan menjadi pahit dan tidak menyelerakan.

 

Begitu juga ia terasa nikmat dengan mempunyai harta yang banyak di mana ia tidak menyangka bahwa harta itu tidak akan dapat dibawa bersamanya ketika mati dan itulah sesungguhnya gaya hidup orang-orang yang kafir, maka apakah kita mahu disebut dengan sebutan itu?

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Dunia ini penjara bagi orang Mukmin dan Syrga bagi orang kafir.” (HR Muslim, At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda :

 

”Syurga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci oleh manusia dan Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang di sukai Hawa nafsu” (HR Muslim, At Tirmizi dan Ahmad)

 

Kemudian Allah swt juga menegaskan didalam FirmanNya :

 

”Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan Neraka merupakan tempat tinggal mereka” (QS Muhammad :12)

Ciri-ciri waktu meliputi 3 perkara :

PERTAMA : WAKTU CEPAT BERLALU

 

Putaran dan pergantian waktu berlaku sangat cepat sekali bagaikan angin berhembus samada di waktu sedih ataupun gembira.

 

Jika dikatakan hari sukacita berlalu begitu cepat dan hari-hari duka bergerak begitu lambat, padahal itu hanyalah perasaan kita belaka dan bukan keadaan yang sebenarnya.

 

Allah swt menegaskan perkara ini dalam FirmanNya :

 

“Dan(Ingatlah)akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia)melainkan sesaat sahaja di siang hari (yang di waktu itu) mereka saling berkenalan).”(QSYunus : 45)

 

KEDUA : WAKTU YANG SUDAH BERLALU TIDAK AKAN BOLEH KEMBALI ATAU DIGANTI

 

Seorang penyair pernah bersenandung :

 

“Seseorang hanyalah pengenderai di atas bahu umurnya, berkelana mengikuti hari dan bulan, ia lalui siang dan malam harinya, semakin jauh dari kehidupan semakin dekat dengan kuburan.”

 

Alangkah malangnya orang yang berasa gembira jika umurnya bertambah dengan mengadakan acara ulang tahun kelahiran atau hari jadi yang tidak ada tuntunannya dari ajaran Islam.

 

Bagaimana dia boleh merasa senang hati sementara :

 

a.       Hari-harinya melenyapkan bulannya.

b.      Bulannya melenyapkan tahunnya.

c.       Tahunnya melenyapkan umurnya.

 

lalu berhentinya umur menghantarkan dirinya kepada kematian.

 

Bagaimana kita tidak merasa sedih dengan umur kita yang pergi tanpa dapat diganti?

 

Manusia sejak diciptakan terus berjalan sebagai musafir dan tidak ada tempat berhenti baginya selain syurga atau neraka.

KETIGA : WAKTU ADALAH HARTA YANG SANGAT MAHAL HARGANYA YANG DIMILIKI OLEH MANUSIA

 

Betapa ramainya orang-orang yang membuang waktunya dengan percuma, sibuk dalam perbicaraan yang tidak bermanfaat sementara umurnya terus melaju menuju kematian tetapi ia tidak menyedarinya.

Bahkan ada orang yang umurnya 60 tahun yang sepatutnya membuatkan ia berwaspada untuk :

 

1.      Sentiasa mengejar pahala.

2.      Menjauhi maksiat.

3.      Segera bertaubat.

 

Namun, ia masih sahaja berkubang dalam lumpur kemaksiatan dan dosa.

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Allah swt memberi kesempatan kepada seseorang dengan ditangguhkan umurnya hingga mencapai umur 60 tahun.” (HR Bukhari)

PANDANGAN SALAFUS SOLEH MENGENAI WAKTU

 

Abu Darda’ ra berkata :

 

“Seandainya bukan kerana tiga perkara, tentu aku tidak suka hidup, meskipun hanya sehari:

1.      Kehausan kepada Allah di bawah panas terik siang hari.

2.      Sujud kepada Allah swt di tengah malam.

3.      Duduk-duduk bersama orang-orang soleh yang sentiasa memilih yang baik-baik dalam berbicara sebagaimana memilih kurma yang berkualiti.”

Ibrahim Al Harbi seorang Muhaddits berkata :

 

“Aku telah menemani Imam Ahmad Bin Hanbal selama 20 tahun, samada di musim gugur atau di musim bunga, musim panas atau musim dingin, malam dan siangnya sungguh aku tidak mendapatinya suatu hari kecuali hari itu lebih bertambah kebaikannya dari hari kelmarin.”

Maka barang siapa hari ini seperti hari kelmarin maka ia adalah orang yang tertipu dan barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kelmarin maka ia adalah orang yang tercela.

 

Marilah mulai dari sekarang untuk merubah perbuatan kita yang selama ini keliru kerana Rasulullah saw bersabda :

 

”Setiap anak adam pasti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang mahu memperbaiki kesalahannya”. (HRAhmad, At Tirmidzi dan Ad Darimi)

 

 

Ramai orang yang berniat untuk bertaubat, berbuat baik, meninggalkan kemaksiatan dan sebagainya akan tetapi semuanya itu hanya terhenti pada niat, keinginan, harapan dan angan-angan semata-mata.

 

Keputusan itu kini ada di tangan kita samada :

 

1.      Meniti jalan Allah swt dengan melakukan segala perintahNya.

2.      Bergerak di jalanNya dengan menjauhi segala laranganNya.

3.      Tetap tenggelam dalam kemaksiatan dalam melalui lorong kehidupan.

 

Marilah kita manfaatkan segala kesempatan untuk menambah kualiti hidup kita. Di samping sentiasa bertaqarrub kepada Allah dengan berbagai ibadah, kita juga hendaklah sentiasa bersama dengan orang-orang yang soleh, menghadiri majlis bersama mereka dan mendengar nasihat-nasihat mereka serta meneladani kehidupan mereka agar perjalanan kehidupan kita lebih terarah kerana waktu yang masih tersisa untuk kita amat sedikit sementara kita berada di lorong kehidupan yang akan segera berakhir.

 

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah segala kesalahan kami. Berilah kami kesedaran untuk kami sentiasa menghargai waktu yang Engkau kurniakan kepada kami sebagai modal utama untuk kami isi dan penuhi dengan amal-amal yang soleh yang akan menjadi bekalan kepada kami dalam perjalanan menujuMu di akhirat nanti.

 

Ameen Ya Rabbal Alameen

 

Wan Ahmad Sanadi Wan Ali

Pengerusi JK tarbiah IKRAM Shah Alam

 


Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Ubah diri tuju kemenangan

Untuk sebuah perubahan – Fathul Jihad

Jom berubah menjadi lebih berani!

Team AIMS Malaysia

Leave a comment

Filed under Renungan

Pelekat Cermin Kereta

Dulu, terjadi perbahasan fiqh yang menarik tentang hukum pelekat cermin kereta yang tertera ayat-ayat suci al-Quran. Perbahasan halal au haram ini terjadi kerana, nama “Allah” yang dikau lekatkan pada cermin kereta itu, bisa dicemari najis burung, yang membuangkan sisa-sisanya dengan sesuka hati, tanpa menghiraukan orang lain –terutama sang pemilik kereta- persis undang-undang ISA yang menangkap orang tanpa pernah mempedulikan perasaan dan keluarga orang lain. Nah, bukankah najis yang terkena ayat-ayat suci Allah itu, satu pencemaran sekaligus penghinaan terhadap agama suci kita al-Islam?

Tapi, perbahasan di sini timbul kerana, najis burung itu tidaklah menyentuh ayat-ayat suci al-Quran yang dilekatkan itu pada hakikatnya. Ini kerana, cermin kereta itu menjadi penghalang atau pemisah di antara najis burung, dengan pelekat ayat-ayat suci al-Quran itu. Lalu, andainya sang burung telah pun melepaskan najisnya sesuka hatinya (Ikut Suka Aku (ISA), kata burung), maka yang perlu kita lakukan adalah menyiram najis burung itu, lalu hilanglah segala kontroversi tentang pencemaran dan penghinaan yang telah dikau timbulkan.

Apa pun, point dan hujah sebahagian pihak tentang kemungkinan nama dan kalam Allah tercemar tatkala ianya dijadikan pelekat cermin pada kereta, tetap perlu diambil perhatian oleh kita semua. Ini kerana mereka yang berkeras mahu mengharamkannya, tentunya mereka yang cukup cinta dan sayang pada Allah dan agama-Nya, serta mempunyai sensitivity yang cukup halus, hingga wajar kita –kalau pun tidak bersetuju dengan mereka- mengagumi dan memuji kecintaan mereka terhadap islam itu, sekaligus berlapang dada dengan mereka; yakni orang yang sama-sama cinta dan sayang pada Allah dan agama-Nya yang mulia.

Namun, dari satu sudut yang lain pula, pencemaran terhadap nama Allah dan kalam suci-Nya memang sering kali berlaku. Lihatlah, bukankah “nama Allah” dan “kalam suci-Nya”, yang sepatut dan seharusnya ter”lekat” pada hati kita, terlebih sering kita cemari dengan “najis-najis” dosa, dengan karat-karat jahiliyah, dengan kegelapan maksiat dan cinta terhadap dunia? Tapi, kenapa tidak pula orang mensensasikan hal itu? Kalimah Allah yang dilindungi cermin, dianggap tercemar dan terhina tatkala najis burung menghingapi cermin itu, tetapi kalimah Allah di dalam hati, betapa sering dicemari “ilah-ilah” lain selain Allah, sedang kita sudah mengikrarkan betapa tidak akan pernah ada ila yang lain yang kita ambil, melainkan diri Allah!

Berdoalah, moga hati ini senantiasa suci, senantiasa bersih, dan senantiasa bebas daripada segala “najis” dosa, noda, dan sisa-sisa Jahiliyah, yang bisa “mencemari” kalimah Allah yang telah tersemat di dada kita. Jangan sampai DOE (Department of Environment), mahupun malaikat pencatat dosa, “menyaman” dirimu di atas pencemaran hati, dan “pembunuhan” jiwa. Awas!

*Dipetik dari blog Ust Faridul Farhan Abd Wahab

Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Pengampunan dosa

Dipetik dari zadud-duat.blogspot.com

Oleh: Dr. Ahmad Hassan

Marilah kita perhatikan sejenak doa orang-orang yang mempunyai hati. Firman Allah:

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali-Imran: 193)

Takfir az-zunub: ialah penghapusan dosa secara keseluruhan atau penghapusan sebahagiannya kerana tiada lagi yang tinggal sebagai satu kurniaan atau kemuliaan dari Allah.

Manakala maghfirah az-zunub: Pencegahan dan perlindungan keburukan dosa dengan menutupinya atau melindunginya sebagai keampunan atau rahmat dari Allah. Namun ianya tertulis di dalam buku catatan seorang hamba..ianya disebut oleh Allah tanpa hisab ke atasnya.

Istighfar ialah doa untuk memohon keampunan, sama seperti semua doa bergantung dengan kehendak Allah sama ada diterima atau tidak diterima Allah.

Istighfar adalah perkataan yang mutlak yang dikaitkan di dalam ayat 135 Surah Ali-Imran:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui”. (Ali-Imran: 135)

Istighfar dituntut dilakukan setiap masa kerana mudah-mudahan ianya bertepatan dengan waktu-waktu yang mustajab.

Perhatikanlah ucapan A’isyah r.a: “Beruntunglah orang pada dirinya sering beristighfar”.

Kemudian saya sampai khabar gembira dari kenyataan nabi saw, daripada Abdullah bin Abbas r.a berkata, bahawa nabi saw telah bersabda:

Orang yang sering beristghfar, Allah akan menjadikan untuknya setiap kedukaan akan ada penyelesaian, setiap kesempitan akan ada jalan keluar. Allah akan mengurniakan rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka”.

Lapan perkara atau sebab yang dapat menghapuskan dosa:

1.      Doa yang diserta penuh pengharapan

2.      Istighfar

3.      Tauhid

4.      Sesuatu kejahatan disusuli dengan kebaikan

5.      Sesuatu musibah dapat menghapuskan dosa

6.      Menjauhi dosa-dosa besar

7.      Syafaat nabi di hari akhirat ke atas umatnya yang melakukan dosa besar

8.      Neraka Jahannam kepada orang yang membersihkan dirinya daripada tujuh dosa besar.

Tiga sebab yang pertama telah dihimpunkan dalam sebuah hadith Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi. Menurutnya ia hadith Hassan. Daripada Anas r.a berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah swt telah berfirman: “Wahai anak Adam, sekiranya engkau berdoa dan memohon kepadaKu, nescaya Aku ampuni dosa yang engkau ada. Wahai anak Adam, sekiranya dosa engkau sampai memenuhi ufuk langit kemudian memohon ampun padaKu, nescaya tetap Aku ampuni dosa engkau. Wahai anak Adam, sekiranya engkau dating kepadaKu dengan kesalahan yang hampir sebesar bumi kemudian engkau tidak pernah menyekutukanKu dengan sesuatu, nescata Aku tetap memberi keampunan kepada engkau”.

 

Sebab yang keempat terdapat di dalam sebuah hadith Rasulullah saw dari riwayat Abu Zar melalui Imam Tirmizi. Menurutnya hadith Hassan:

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, susulilah sesuatu kejahatan dengan perkara kebaikan kerana ia akan menghapuskan dosanya dan bergaullah dengan akhlak yang mulia”.

Bermaksud: Jikalau engkau melakukan sesuatu kejahatan atau keburukan, maka susulilah dengan melakukan sesuatu kebaikan atau amal soleh, kerana ianya akan menghapuskan dosa kejahatan itu. Para ulamak berbeza pendapat, adakah maksud kebaikan yang menyusuli sesuatu kejahatan itu ialah taubat, seolah-olah ia berkata: Jikalau berbuat suatu kejahatan segeralah bertaubat, atau melakukan kebaikan yang lain?

Pendapat yang tepat ialah yang kedua, iaitu perbuatan baik boleh menghapuskan kejahatan sekalipun tidak bertaubat berdasarkan dalil di dalam firman Allah:

“Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (Hud: 114)

Seorang lelaki bertanya Nabi saw di mana dia telah mendapat satu kucupan daripada seorang wanita yang dikira sebagai zina (kecil). Beliau telah menunaikan solat subuh bersama mereka. Lalu baginda telah bertanya: Adakah engkau telah menunaikan solat subuh bersama kami?. Lelaki itu menjawab: Ya. Lalu baginda membacakan ayat ini:“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”yang menjadi dalil bahawa sesuatu kebaikan menghapuskan dosa kejahatan sekalipun tidak bertaubat.

Oleh itu, ayuhlah wahai orang-orang yang melakukan kejahatan segeralah melakukan kebaikan, janganlah menangguh-nangguhkannya..

 

Sebab kelima dijelaskan oleh nabi saw seperti yang diriwayatkan oleh Abu said al-Khudri dan Abu Hurairah r.a:

“Tiada sesuatu musibah yang berlaku ke atas seorang muslim seperti kecelakaan, penderitaan, kedukaan, kesempitan, kesakitan dan kesedihan melainkan Allah akan menghapuskan segala kesalahan-kesalahannya”. (Muttafaq alaih)

Hanya dengan kesabaran menanggung musibah tersebut Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu.

Sebab keenam: Jelas seperti yang dinyatakan di dalam firman Allah:

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (An-Nisa’: 31)

Hanya dengan niat kamu ingin menjauhi dosa-dosa besar nescaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil. Dosa-dosa besar kekal tidak diampuni selagi belum bertaubat nasuha.

Sebab ketujuh: Syafaat nabi saw kepada umatnya yang melakukan maksiat. Daripada Anas bin Malik dari nabi saw yang bersabda:

“Syafaatku (di hari Kiamat) kepada umatku yang melakukan dosa-dosa besar”. (sahih)

Ini adalah satu kemuliaan dari nabi saw. Justeru kita memohon agar Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang mendapat syafaatnya iaitu yang memiliki kedudukan yang mulia di sisi Tuhan. Allah swt sekali-kali tidak akan membiarkan kekasihnya pada hari Kiamat nanti.

 

Saudaraku yang dikasihi..Seandainya kamu tidak memperolehi tujuh perkara di atas, maka tiada yang lagi peluang melainkan yang kelapan..iaitu neraka Jahannam (na’uzubillah min zalik) yang akan membersihkan dosa-dosanya sehingga apabila telah disuci dan dibersihkan barulah dapat memasuki syurga dalam keadaan suci bersih tanpa sebarang dosa. Sudah tentu bagi orang yang berakal tidak akan berasa gembira di atas kelewatannya memasuki syurga kerana ai dunia hanya satu bahagian daripada 70 bahagian dari api jahannam..neraka telah dinyalakan selama seribu tahun sehingga menjadi kemerahan..kemudian dinyalakan selama seribu tahun sehingga menjadi keputihan, kemudian dinyalakan sehingga menjadi kehitaman. Justeru neraka Jahannam sekarang tentulah dalam keadaan gelap pekat.

Kini telah tiba hari-hari yang baik untuk kita dan Allah telah muliakan kita dengan ketibaannya..Adakah kita telah menyediakan diri untuk bertaubat? Allah adalah disebalik semua yang berlaku.

Terjemahan dari  http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=52570&SecID=363

 


Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Kebahagian :D

Kata mereka:

Kebahagiaan terletak pada sikap berdiam diri, pada malu dan kebekuan.

Pada hidup bersama famili, dan bukannya hidup orang berhijrah dan terusir.

Pada berjalan di belakang kenderaan mewah dan dengan langkah yang longlai.

Pada ikut sahaja apa yang orang katakan, tanpa tentangan dan konfrantasi.

Pada ikut sahaja ke mana rombongan bergerak, kamu dipimpin, bukan memimpin.

Pada hanya bersorak untuk setiap pemerintah: hidup kamu… selama-lamanya….

Aku pula berkata:

Hidup ini adalah gerakan, bukan diam dan bukan kaku.

Hidup adalah jihad, akan berjuangkah orang yang hanya duduk berpeluk tubuh?

Hidup adalah menikmati lazatnya susah, bukan bersedap-sedap dengan tidur.

Ia adalah membela hak, merdekakah orang yang tidak membela haknya?

Hidup adalah kamu merasa kehinaan itu laksana air nanah.

Hidup ialah kamu hidup sebagai khalifah di bumi, tugas kamu memimpin.

Kamu boleh berkata ‘NO’ dan ‘YES’, apabila kamu mahu dengan pandangan yang tajam!

 

– Karangan Dr Yusuf Qardhawi, untuk majalah at-tarbiyah islamiyah. Ia telah dimuatkan dalam buku Al-Muntalaq karangan Sheikh Ahmad Rashid.

Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah