Category Archives: Tazkirah

Meneliti Pedoman Berharga

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya dan sesuatu pekerjaan itu dinilai dari masa akhirnya.

Sesungguhnya Rasulullah saw diutuskan untuk menyempurnakan akhlak manusia dan orang-orang yang sebelum Rasulullah saw binasa kerana mabuk dinar dan dirham (harta benda) dan keduanya juga yang akan menghancurkan kita.

Sesungguhnya yang paling Rasulullah saw takutkan dari umatnya adalah syahwatnya orang-orang kaya yang tidak mampu membendung keinginan perutnya dan gejolak kemaluannya.

Sesungguhnya Allah swt akan memberikan rahmatNya kepada orang-orang yang berkasih sayang pada sesamanya.

Sesungguhnya harta abadi kita adalah yang kita berikan pada sesama kita.

Sesungguhnya orang-orang yang rela dengan kehinaan adalah orang-orang yang rindu dunia.
Continue reading

Leave a comment

Filed under Tazkirah

Modal Utama Manusia

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

 

Modal setiap manusia di dunia ini adalah :

 

a.       Waktu yang singkat.

b.      Nafas yang terbatas.

c.       Hari-hari yang berbilang.

 

Barangsiapa yang menggunakan kesempatan dan saat-saat itu dalam kebaikan dan sentiasa beribadah maka, beruntunglah dia. Namun, sebaliknya siapa sahaja yang menyia-nyiakan semua itu maka ia telah rugi dan waktu pun tidak akan dapat kembali seperti sediakala.

 

Ada sebuah sya’ir Arab yang menggambarkan ciri-ciri waktu dengan bahasa yang begitu mendalam :

 

“Waktu adalah ibarat mata pedang, jika kamu tidak memotongnya maka ia akan memotong kamu.”

Waktu adalah salah satu dimensi dalam hidup manusia.

 

Ciri-ciri waktu adalah :

 

1.      Sentiasa bergerak secara cepat.

2.      Berlalu tanpa terasa.

3.      Tiba-tiba mendatangi secara mengejut.

 

Tidak hairanlah kenapa masyarakat Arab membuat kiasan cepatnya keadaan waktu dengan kilatan pedang yang menyambar agar kita dapat meresapi cara mengatur waktu yang baik di mana kita perlu belajar dari seorang pahlawan mengenai teknik bermain dan menggunakan sebilah pedang.

 

Alangkah ramai orang-orang yang rugi kerana mereka mengira bahwa hidup di dunia ini panjang waktunya.

 

Allah swt berfirman :

 

Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu untuk main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS Al-Mu’minun : 115)

Ramai juga orang-orang yang menganggap diri  mereka telah berbuat kebajikan, banyak berjuang dan berjasa kepada Islam sedangkan Allah swt  menyindir orang-orang yang bersikap demikian dalam FirmanNya :

 

“Iaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, sedang mereka telah menganggap telah berbuat kebaikan.” (QS Al Kahfi : 104)

 

Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari umur, sedangkan umur manusia tidak lebih dari beberapa puluh tahun. Lalu kelak ia akan ditanya di atas setiap detik waktu yang dilaluinya dan apa yang ia lakukan di saat ia bertemu dengan Allah swt.

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Tidak akan berganjak kedua tapak kaki hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan, serta tentang fizikalnya untuk apa dia pergunakan.” (HR At-Tirmizi)

Umur manusia adalah masa yang ia tanam di dunia, sedangkan masa penghasilannya adalah di akhirat dan oleh kerana itu, sungguh amat rugi jika manusia menyia-nyiakan waktunya dan membelanjakan modalnya untuk sesuatu yang tidak berguna.

 

Barangsiapa yang tidak mengetahui besarnya nilai waktu yang terluang, sungguh akan datang padanya suatu masa di mana akan diperlihatkan kepadanya tentang mahalnya nilai waktu serta nilai beramal di dalamnya di mana yang jelasnya, manusia akan menyesal dalam dua keadaan :

 

1.      Ia akan menyesal kerana keingkarannya terhadap nilai waktu.

2.      Ia akan menyesal kerana sedikit amalnya mengisi ruangan waktu tersebut.

 

Namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.

 

Ada juga di kalangan manusia yang begitu prihatin dengan waktu, bahkan dalam fikirannya waktu 24 jam sehari semalam itu terasa begitu sedikit, namun semuanya mereka habiskan untuk urusan dunia dan jika hal itu benar-benar dilakukan maka dia termasuk orang yang bodoh kerana dia hanya mempersiapkan untuk urusan dunia semata-mata (sesuatu yang singkat) dan meninggalkan urusan akhirat (sesuatu yang sangat abadi ).

 

Dia bekerja keras siang dan malam tetapi hasilnya tidak seimbang dengan kemanfaatan yang diperolehi untuk dirinya di mana paling tinggi nikmat itupun hanyalah sekadar ia mendapatkan nikmatnya makanan dilidahnya namun apabila ia sakit, semua makanan yang terasa nikmat itu akan menjadi pahit dan tidak menyelerakan.

 

Begitu juga ia terasa nikmat dengan mempunyai harta yang banyak di mana ia tidak menyangka bahwa harta itu tidak akan dapat dibawa bersamanya ketika mati dan itulah sesungguhnya gaya hidup orang-orang yang kafir, maka apakah kita mahu disebut dengan sebutan itu?

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Dunia ini penjara bagi orang Mukmin dan Syrga bagi orang kafir.” (HR Muslim, At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda :

 

”Syurga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci oleh manusia dan Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang di sukai Hawa nafsu” (HR Muslim, At Tirmizi dan Ahmad)

 

Kemudian Allah swt juga menegaskan didalam FirmanNya :

 

”Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan Neraka merupakan tempat tinggal mereka” (QS Muhammad :12)

Ciri-ciri waktu meliputi 3 perkara :

PERTAMA : WAKTU CEPAT BERLALU

 

Putaran dan pergantian waktu berlaku sangat cepat sekali bagaikan angin berhembus samada di waktu sedih ataupun gembira.

 

Jika dikatakan hari sukacita berlalu begitu cepat dan hari-hari duka bergerak begitu lambat, padahal itu hanyalah perasaan kita belaka dan bukan keadaan yang sebenarnya.

 

Allah swt menegaskan perkara ini dalam FirmanNya :

 

“Dan(Ingatlah)akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia)melainkan sesaat sahaja di siang hari (yang di waktu itu) mereka saling berkenalan).”(QSYunus : 45)

 

KEDUA : WAKTU YANG SUDAH BERLALU TIDAK AKAN BOLEH KEMBALI ATAU DIGANTI

 

Seorang penyair pernah bersenandung :

 

“Seseorang hanyalah pengenderai di atas bahu umurnya, berkelana mengikuti hari dan bulan, ia lalui siang dan malam harinya, semakin jauh dari kehidupan semakin dekat dengan kuburan.”

 

Alangkah malangnya orang yang berasa gembira jika umurnya bertambah dengan mengadakan acara ulang tahun kelahiran atau hari jadi yang tidak ada tuntunannya dari ajaran Islam.

 

Bagaimana dia boleh merasa senang hati sementara :

 

a.       Hari-harinya melenyapkan bulannya.

b.      Bulannya melenyapkan tahunnya.

c.       Tahunnya melenyapkan umurnya.

 

lalu berhentinya umur menghantarkan dirinya kepada kematian.

 

Bagaimana kita tidak merasa sedih dengan umur kita yang pergi tanpa dapat diganti?

 

Manusia sejak diciptakan terus berjalan sebagai musafir dan tidak ada tempat berhenti baginya selain syurga atau neraka.

KETIGA : WAKTU ADALAH HARTA YANG SANGAT MAHAL HARGANYA YANG DIMILIKI OLEH MANUSIA

 

Betapa ramainya orang-orang yang membuang waktunya dengan percuma, sibuk dalam perbicaraan yang tidak bermanfaat sementara umurnya terus melaju menuju kematian tetapi ia tidak menyedarinya.

Bahkan ada orang yang umurnya 60 tahun yang sepatutnya membuatkan ia berwaspada untuk :

 

1.      Sentiasa mengejar pahala.

2.      Menjauhi maksiat.

3.      Segera bertaubat.

 

Namun, ia masih sahaja berkubang dalam lumpur kemaksiatan dan dosa.

 

Rasulullah saw bersabda :

 

“Allah swt memberi kesempatan kepada seseorang dengan ditangguhkan umurnya hingga mencapai umur 60 tahun.” (HR Bukhari)

PANDANGAN SALAFUS SOLEH MENGENAI WAKTU

 

Abu Darda’ ra berkata :

 

“Seandainya bukan kerana tiga perkara, tentu aku tidak suka hidup, meskipun hanya sehari:

1.      Kehausan kepada Allah di bawah panas terik siang hari.

2.      Sujud kepada Allah swt di tengah malam.

3.      Duduk-duduk bersama orang-orang soleh yang sentiasa memilih yang baik-baik dalam berbicara sebagaimana memilih kurma yang berkualiti.”

Ibrahim Al Harbi seorang Muhaddits berkata :

 

“Aku telah menemani Imam Ahmad Bin Hanbal selama 20 tahun, samada di musim gugur atau di musim bunga, musim panas atau musim dingin, malam dan siangnya sungguh aku tidak mendapatinya suatu hari kecuali hari itu lebih bertambah kebaikannya dari hari kelmarin.”

Maka barang siapa hari ini seperti hari kelmarin maka ia adalah orang yang tertipu dan barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kelmarin maka ia adalah orang yang tercela.

 

Marilah mulai dari sekarang untuk merubah perbuatan kita yang selama ini keliru kerana Rasulullah saw bersabda :

 

”Setiap anak adam pasti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang mahu memperbaiki kesalahannya”. (HRAhmad, At Tirmidzi dan Ad Darimi)

 

 

Ramai orang yang berniat untuk bertaubat, berbuat baik, meninggalkan kemaksiatan dan sebagainya akan tetapi semuanya itu hanya terhenti pada niat, keinginan, harapan dan angan-angan semata-mata.

 

Keputusan itu kini ada di tangan kita samada :

 

1.      Meniti jalan Allah swt dengan melakukan segala perintahNya.

2.      Bergerak di jalanNya dengan menjauhi segala laranganNya.

3.      Tetap tenggelam dalam kemaksiatan dalam melalui lorong kehidupan.

 

Marilah kita manfaatkan segala kesempatan untuk menambah kualiti hidup kita. Di samping sentiasa bertaqarrub kepada Allah dengan berbagai ibadah, kita juga hendaklah sentiasa bersama dengan orang-orang yang soleh, menghadiri majlis bersama mereka dan mendengar nasihat-nasihat mereka serta meneladani kehidupan mereka agar perjalanan kehidupan kita lebih terarah kerana waktu yang masih tersisa untuk kita amat sedikit sementara kita berada di lorong kehidupan yang akan segera berakhir.

 

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah segala kesalahan kami. Berilah kami kesedaran untuk kami sentiasa menghargai waktu yang Engkau kurniakan kepada kami sebagai modal utama untuk kami isi dan penuhi dengan amal-amal yang soleh yang akan menjadi bekalan kepada kami dalam perjalanan menujuMu di akhirat nanti.

 

Ameen Ya Rabbal Alameen

 

Wan Ahmad Sanadi Wan Ali

Pengerusi JK tarbiah IKRAM Shah Alam

 


Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Pelekat Cermin Kereta

Dulu, terjadi perbahasan fiqh yang menarik tentang hukum pelekat cermin kereta yang tertera ayat-ayat suci al-Quran. Perbahasan halal au haram ini terjadi kerana, nama “Allah” yang dikau lekatkan pada cermin kereta itu, bisa dicemari najis burung, yang membuangkan sisa-sisanya dengan sesuka hati, tanpa menghiraukan orang lain –terutama sang pemilik kereta- persis undang-undang ISA yang menangkap orang tanpa pernah mempedulikan perasaan dan keluarga orang lain. Nah, bukankah najis yang terkena ayat-ayat suci Allah itu, satu pencemaran sekaligus penghinaan terhadap agama suci kita al-Islam?

Tapi, perbahasan di sini timbul kerana, najis burung itu tidaklah menyentuh ayat-ayat suci al-Quran yang dilekatkan itu pada hakikatnya. Ini kerana, cermin kereta itu menjadi penghalang atau pemisah di antara najis burung, dengan pelekat ayat-ayat suci al-Quran itu. Lalu, andainya sang burung telah pun melepaskan najisnya sesuka hatinya (Ikut Suka Aku (ISA), kata burung), maka yang perlu kita lakukan adalah menyiram najis burung itu, lalu hilanglah segala kontroversi tentang pencemaran dan penghinaan yang telah dikau timbulkan.

Apa pun, point dan hujah sebahagian pihak tentang kemungkinan nama dan kalam Allah tercemar tatkala ianya dijadikan pelekat cermin pada kereta, tetap perlu diambil perhatian oleh kita semua. Ini kerana mereka yang berkeras mahu mengharamkannya, tentunya mereka yang cukup cinta dan sayang pada Allah dan agama-Nya, serta mempunyai sensitivity yang cukup halus, hingga wajar kita –kalau pun tidak bersetuju dengan mereka- mengagumi dan memuji kecintaan mereka terhadap islam itu, sekaligus berlapang dada dengan mereka; yakni orang yang sama-sama cinta dan sayang pada Allah dan agama-Nya yang mulia.

Namun, dari satu sudut yang lain pula, pencemaran terhadap nama Allah dan kalam suci-Nya memang sering kali berlaku. Lihatlah, bukankah “nama Allah” dan “kalam suci-Nya”, yang sepatut dan seharusnya ter”lekat” pada hati kita, terlebih sering kita cemari dengan “najis-najis” dosa, dengan karat-karat jahiliyah, dengan kegelapan maksiat dan cinta terhadap dunia? Tapi, kenapa tidak pula orang mensensasikan hal itu? Kalimah Allah yang dilindungi cermin, dianggap tercemar dan terhina tatkala najis burung menghingapi cermin itu, tetapi kalimah Allah di dalam hati, betapa sering dicemari “ilah-ilah” lain selain Allah, sedang kita sudah mengikrarkan betapa tidak akan pernah ada ila yang lain yang kita ambil, melainkan diri Allah!

Berdoalah, moga hati ini senantiasa suci, senantiasa bersih, dan senantiasa bebas daripada segala “najis” dosa, noda, dan sisa-sisa Jahiliyah, yang bisa “mencemari” kalimah Allah yang telah tersemat di dada kita. Jangan sampai DOE (Department of Environment), mahupun malaikat pencatat dosa, “menyaman” dirimu di atas pencemaran hati, dan “pembunuhan” jiwa. Awas!

*Dipetik dari blog Ust Faridul Farhan Abd Wahab

Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Tadabbur pintu kefahaman

Dipetik dari Pertubuhan IKRAM Malaysia,

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam menghabiskan sebahagian besar waktunya di hadapan‘mushaf’ untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya berulang kali, bahkan saling berlumba-lumba untuk mengkhatamkan sebanyak-banyaknya.

Tidak diragukan lagi usaha seperti ini mengandungi tujuan yang positif dari beberapa seginya seperti :

  1. Perhatian kaum muslimin terhadap kitab suci mereka.
  2. Kecintaan dan keterikatan mereka terhadapnya.

Namun, sangat sayang sekali bahwa yang menjadi pusat perhatian mereka hanya tertumpu kepada huruf-huruf dan lafadz Al-Qur’an sahaja tanpa memahami isi serta makna lafadz tersebut yang boleh menjadikan seseorang istiqamah terhadap perintah-perintah Allah dan berpegang teguh di jalanNya yang lurus sebagaimana firman Allah swt :

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (QS Al-Isra’ : 9)

Namun ternyata, kita sangat jauh dari apa yang dikehendaki oleh Al-Qur’an.

Sebagai bukti nyata, tatkala seseorang di antara kita membaca ayat demi ayat, surah demi surah dan mengkhatamkan berkali-kali, akan tetapi bacaannya itu tidak meninggalkan jejak pada perilaku dan akhlaqnya.

Bahkan jika kita menanyakan kepada mereka apa yang dapat mereka renungkan dari ayat-ayat yang dibaca, niscaya kita tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa dari mereka bahkan yang penting bagi mereka hanya mengumpulkan pahala yang banyak sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dinilai dengan 10 semisalnya (10 kebaikan), saya tidak mengatakan ‘alif’, ‘lam’, ‘mim’ satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Hadits hasan, riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud)

JANGAN SEKADAR MEMBACA

Sebenarnya bukan seperti itu yang diinginkan oleh Rasulullah saw.

Kalaulah Al-Qur’an hanya berkaitan dengan banyaknya pahala yang akan kita dapatkan ketika membacanya, maka yang lebih baik adalah kita mengalihkannya kepada amalan lain yang akan memberi kita pahala yang lebih besar lagi sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :

“Barangsiapa masuk ke sebuah pasar kemudian mengucapkan kalimat ‘laa ilaaha illa-llah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumitu, wa huwa hayyun laa yamuutu bi yadihil khoir wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir. (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, kepunyaanNya kerajaan langit dan bumi, bagiNya lah segala puji yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia itu hidup tidak akan mati, digenggamanNya lah semua kebaikan dan Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu), dicatat baginya beribu-ribu kebaikan dan dihapus darinya beribu-ribu kesalahan dan dia akan diangkat beribu-ribu darjat dan akan dibangunkan untuknya rumah di syurga” (Hadith di dalam Shahih Jami’ As Shaghir)

Ini bukanlah bererti kita meremehkan pahala tilawah Al-Qur’an, akan tetapi, kita ingin meluruskan kembali persepsi terhadap cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur’an bahwa sebenarnya nilai dan barakah Al-Qur’an terdapat pada makna yang dikandungnya, manakala lafadz merupakan wasilah untuk mengetahui maknanya.

Oleh kerana itu, Rasulullah saw mengarahkan dan membangkitkan semangat membaca Al-Qur’an dengan diberi pengharapan terhadap pahala yang besar sepertimana sebuah perumpamaan:

‘Seorang ayah yang memberi wang saku untuk anaknya agar dia tekun belajar dalam waktu yang berjam-jam tentu sahaja dia tidak bermaksud agar anaknya hanya duduk di kerusi dan membolak-balikkan halaman buku tanpa mendapatkan kefahaman, akan tetapi tujuan si bapa tadi adalah untuk memberi motivasi agar anaknya terus belajar dengan serius supaya dia menjadi orang yang berjaya dalam hidup.’

Bila kita memperhatikan tujuan utama diturunkan Al-Qur’an dan kita hubungkan antara perumpamaan tadi dengan pahala besar yang diberikan oleh Allah Yang Maha Bijaksana atas bacaan Al-Qur’an tersebut, maka kita akan dapati bahwa tujuan dari pahala-pahala tersebut merupakan motivasi bagi kaum muslimin agar sentiasa dekat dengan Al-Qur’an supaya :

  1. Kita memperolehi petunjuk dan hidayah melalui Al-Qur’an.
  2. Kita mendapatkan kesembuhan jiwa melalui ubat dan ramuannya.

Adapun kalau kita mendekatkan padanya tanpa tujuan yang jelas kecuali hanya ingin mendapatkan pahala bacaan semata-mata tanpa memperhatikan makna yang dikandungnya, maka amat jelas bahwa kita akan rugi dengan interaksi yang kaku ini dan Al-Qur’an tidak akan menjadi hidayah bagi kita.

TADABBUR, SATU-SATUNYA JALAN

Sebenarnya nash-nash Al-Qur’an sangat jelas dalam menekankan akan kepentingan bertadabbur ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, supaya tadabbur itu dijadikan sebagai wasilah untuk memahami perintah Allah dan mempengaruhi diri kita untuk kemudiannya diamalkan.

Ini sebagaimana firman Allah swt :

“Kitab ini kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS Shaad : 29)

Firmana Allah lagi :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad : 24)

Untuk memahami pesanan-pesanan Al-Qur’an, kita mestilah membiasakan diri untuk membacanya dengan penuh tadabbur.

Oleh kerana itu Rasulullah saw menasihati Abdullah bin Amr bin Ash ra supaya tidak mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari sebagaimana sabda baginda :

“Tidak akan faham seseorang yang membacanya (Al-Qur’an) kurang dari tiga hari.” (Hadits dalam Shahih Jami’ As Shaghir)

Bukankah kita selalu bersungguh-sungguh untuk memahami setiap perkataan yang kita baca atau kita dengar?

Jadi, mengapa kita tidak praktikkan kaidah ini terhadap Al-Qur’an?

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata :

“Sudah menjadi maklum bahwa setiap perkataan itu, tujuannya untuk dapat difahami, bukan untuk sekadar mengetahui lafadz-lafadznya sahaja, maka Al-Qur’an lebih utama (untuk difahami) dari semua itu.”

Perkara ini juga dikuatkan oleh Ustaz Hasan Al-Hudhaibi yang berkata :

“Yang menjadi panduan seseorang dalam tilawah Al-Qur’an bukanlah seberapa banyak ia membacanya, namun sejauh mana ia dapat mengambil manfaat dari hasil bacaannya. Al-Qur’an tidak akan turun sebagai barakah kepada Nabi saw dengan lafadz-lafadz yang tidak bermakna. Sesungguhnya barakah Al-Qur’an itu adalah pada saat kita mengamalkannya, dan saat kita mengambilnya sebagai manhaj hidup yang menerangi jalan orang-orang yang menempuhnya. Maka ketika kita membaca Al-Quran, mestilah diniatkan untuk merealisasikan kandungan makna tersebut dan itu hanya boleh dilakukan dengan mentadabbur ayat-ayatnya, memahami dan mengamalkannya.”

TADABBUR, WASILAH BUKAN TUJUAN

Sudah tentulah seseorang yang menyertai tilawah  di atas dasar kefahaman dan tadabbur sebagaimana Imam Al-Qurtubi menyatakan dalam tafsirnya tentang ayat :

“Apakah kamu tidak mentadabbur Al-Qur’an. Kalaulah ia bukan dari sisi Allah tentu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS An-Nisa’ : 82)

Ia mengatakan :

“Ayat ini menunjukkan atas (hukum) wajibnya mentadabbur Al-Qur’an untuk mengetahui maknanya.”

Maka tadabbur Al-Qur’an, sekalipun diwajibkan ke atas para pembacanya atau atas pendengarnya, tetapi tadabbur itu sendiri bukanlah merupakan tujuan utama melainkan ia adalah wasilah untuk membangkitkan kembali mu’jizat agung yang dikandungnya dan merealisasikan mu’jizat itu pada jiwa-jiwa yang menerimanya.

MUKJIZAT YANG TERAGUNG

Kita semua tahu bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita merupakan mukjizat yang besar dan agung yang datang dari Allah, lebih agung dari tongkat Nabi Musa as dan dari unta Nabi Soleh as dan dari mukjizat-mukjizat lainnya.

Lalu apakah rahsia yang menjadikannya lebih tinggi dari mukjizat-mukjizat sebelumnya?

Sebahagian menjawab bahwa mukjizat Al-Qur’an tersembunyi dalam :

  1. Ushlub dan gaya bahasanya.
  2. Cabaran terhadap seluruh umat manusia yang tidak mampu membuat yang semisal dengannya.
  3. Kesesuaian untuk setiap zaman, tempat dan masa.

Semua jawaban ini benar dari beberapa segi kemukjizatan Al-Qur’an, akan tetapi ada rahsia kemukjizatannya yang lebih besar iaitu dalam keajaibannya untuk mengubah.

Mengubah manusia walau macam mana sekalipun dan dari lingkungan yang bagaimanapun sekalipun bahkan ia mengubah mereka menjadi manusia baru yang lebih ‘alim (berpengetahuan luas), ‘abid (tekun beribadah) dalam segala perkara dan keadaannya sehingga membentuk keperibadian yang digambarkan oleh Al-Qur’an :

“Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”(QS Al-An’am : 162)

KEAJAIBAN ITU BERLAKU

Perubahan yang berlaku melalui Al-Qur’an bermula dari masuknya cahaya Al-Qur’an ke hati, maka setiap kali cahaya tersebut menerangi suatu bahagian dari bahagian-bahagian hati, kaburlah kegelapan yang disebabkan oleh kemaksiatan, kelalaian dan mengikuti hawa nafsu.

Sedikit demi sedikit bertambahlah cahaya ke dalam hati dan merangkaklah kehidupan hati di setiap sisinya memulai hidup baru yang belum pernah berlaku sebelumnya.

Allah swt berfirman :

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia kami hidupkan dan kami berikan ia cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan dengan orang yang keadaannya berada dalam keadaan gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar daripadanya? (QS Al-An’am : 122)

Al-Qur’an merupakan Ruh yang menyebar dalam seluruh penjuru hati maka ia menghidupkan akan setiap hati yang mati. Allah SWT berfirman :

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Al-Qur’an) dengan perintah kami . Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami tunjuki siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami”. (QS As-Syura : 52)

Ketika Ruh tersebut melekat ke dalam hati dan setiap penjurunya dipenuhi dengan cahaya iman, maka ia mampu mengusir hawa nafsu dan rasa cinta terhadap dunia dan kemudiannya akan mempengaruhi perilaku seorang hamba dan tujuan hidupnya.

Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya ketika ia ditanya tentang makna‘insyirah shadr’ (keterbukaan dada) dalam firmanNya :

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (QS Az-Zumar : 22)

Nabi saw menjelaskan :

“Apabila cahaya iman masuk terbukalah hatinya” (untuk menerima kebenaran).”

Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, apa ciri-cirinya?”

Rasulullah saw bersabda :

“Kerinduan kepada kampung keabadian, merasa jauh dari dunia yang menipu, bersiap-siap untuk menghadapi kematian sebelum ia datang.”

KEHEBATAN MUKJIZAT ALQUR’AN

Allah swt berfirman :

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung ganang dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau oleh kerananya, orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Qur’an itulah dia).”  (QS Ar Ra’ad : 31)

Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat kuat yang tidak mungkin kita bayangkan di mana Allah mengumpamakan kepada kita dengan suatu contoh :

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al-Hasyr : 21]

Gunung, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurtubi :

“Apabila Al-Qur’an ini diwahyukan kepadanya dengan susunan dan gaya bahasa yang indah yang mengandungi pelajaran-pelajaran berharga, maka kamu akan melihat gunung yang keras dan kukuh itu pecah dan hancur berkeping-keping kerana rasa takut kepada Allah”.

Dalam contoh di atas, kita diperintahkan untuk merenungkan kekuatan pengaruh yang dimiliki oleh Al-Qur’an agar menjadi hujjah bagi semua manusia dan mematahkan dalih orang-orang yang beralasan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mentadabbur Al-Qur’an.

JIN PUN BERIMAN

Di antara bukti kemukjizatan Al-Qur’an dan kekuatannya yang dahsyat dalam mempengaruhi adalah sebagaimana yang berlaku terhadap sekelompok jin ketika ia mendengarkan ayat Al-Qur’an.

Allah swt berfirman :

“Dan ingatlah ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an , maka tatkala mereka mengghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: “Diamlah kamu untuk mendengarkannya”. Ketika pembacaannya telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk memberi peringatan) mereka berkata : ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami , terimalah (seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan ) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahqaaf : 29-32)

BUKTI NYATA YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN

Al-Qur’an memiliki pengaruh yang luar biasa pada setiap jiwa yang menyambutnya dan yang selalu berinteraksi dengan sebenar-benarnya dan menjadikannya sebagai petunjuk dan ubat.

Maka berlakulah perubahan yang besar-besaran dalam keperibadiannya, sebuah kehidupan dengan rancangan dan bentuk baru yang lebih dicintai dan diridhai oleh Allah swt.

Jika kita ragu akan hal ini, marilah kita lihat apa yang berlaku kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Mereka adalah orang-orang yang berada dalam kesesatan dan kejahiliyahan yang nyata sebelum mereka masuk Islam. Kemudian, dalam keadaan yang demikian mereka masuk ke dalam “Projek Al-Qur’an”dan kemudiannya keluar sebagai manusia-manusia baru yang menjadi kebanggaan umat manusia sampai saat ini.

Ini merupakan sesuatu yang menakjubkan sebagai bukti bagi kemampuan kitab ini untuk mengubah apa yang ada dalam jiwa seseorang sampai ke akarnya.

Kalau bukan demikian, siapa yang percaya bahwa sebuah umat yang hidup di tengah padang pasir, tidak mempunyai alas kaki, berpakaian sederhana, miskin, tidak dicatat dalam sejarah, yang dianggap remeh oleh kekuatan-kekuatan tamadun pada masa itu, apabila datangnya Al-Qur’an, ia :

  1. Mengubah dan membangun kembali keperibadian mereka dengan rancangan, bentuk, dan kehidupan yang benar-benar baru.
  2. Mengangkat cita-cita dan semangat putera-putera umat itu ke langit.
  3. Mengikatkan hati-hati mereka kepada Allah agar hanya Dialah menjadi satu-satunya tujuan.

Semua ini berlaku dalam waktu yang begitu singkat iaitu hanya dalam hitungan tahun, kafilah ini berubah dengan sangat dramatik.

Maka apakah yang berlaku setelah itu?

Janji Allah menjadi sesuatu yang nyata, sebagaimana yang dijanjikannya terhadap hamba-hamba-Nya ketika mereka telah menunaikan kewajiban untuk memperbaiki diri sendiri.

Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri apa yang ada dalam diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’ad : 11)

Dalam hitungan tahun, muncullah sebuah kekuatan baru dari kegersangan padang pasir untuk menghancurkan dinasti-dinasti zalim.

Bertukarlah timbangan kekuatan dan kemudian kepimpinan umat manusia beralih ke tangan mereka.

“Maka siapakah yang lebih menepati janji (selain) Allah?” (QS At-Taubah : 111)

BILA PERUBAHAN ITU BERLAKU?

Yang membuatkan Al-Qur’an mampu mengubah para sahabat Rasulullah saw secara drastik disebabkan :

  1. Interaksi yang baik antara Sahabat ra dengan Al-Qur’an setelah mereka mengetahui betapa berharganya Al-Qur’an dan mereka betul-betul memahami untuk apa Al-Qur’an diturunkan.
  2. Mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai guru sekaligus qudwah bagi mereka.

Sungguh, Rasulullah saw telah menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan perilakunya dan men’shibghah’ kehidupannya dengan Al-Qur’an seakan-akan baginda adalah Al-Qur’an yang berjalan di muka bumi, membenci apa yang dibenci oleh Al-Qur’an dan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Al-Qur’an.

Rasulullah saw membaca Al-Qur’an dengan perlahan tidak tergesa-gesa, ia melantunkan dengan indah sebuah surah dalam Al-Qur’an sehingga dirasakan bacaannya lebih panjang dari surah itu sendiri.

Pernah Rasulullah saw qiyamullail sepanjang malam dengan mengulang-ulangi satu ayat dalam solatnya yang berbunyi :

“Jika Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hambaMu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Maaidah : 118)

Bahkan kita akan terpegun kagum terhadap pengaruh Al-Qur’an yang sangat kuat ke atas diri Rasulullah saw ketika baginda memberitakan kepada kita :

“Surah Hud dan seumpamanya (Al-Haaqqah, Al-Ma’arij, At-Takwir dan Al-Qaariah ) telah membuat rambutku beruban sebelum waktunya.”

Adapun pengaruh Al-Qur’an ke atas jiwa para sahabat radhiyallahuanhum, maka sebaik-baik bukti adalah ketika kehidupan mereka berganti dan tujuan berubah arah.

Jika kita ingin mengetahui kehidupan para sahabat dengan Al-Qur’an dan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur’an terhadap mereka, maka lihatlah Abbad bin Bisyr yang saling bergantian berjaga malam bersama Ammar bin Yasir dalam peperangan Dzaturriqa’.

Ia meminta Ammar dengan secara memaksa untuk tidur di awal malam agar ia dapat berjaga ketika ia melihat tempat tersebut aman, ia pun solat. Maka datanglah salah seorang musyrikin memanahnya, ia pun mencabutnya dan meneruskan solatnya. Kemudian musyrik tersebut melemparkan panahan yang kedua, ia cabut lagi dan menyempurnakan solatnya. Apabila datang panahan yang ketiga kalinya, maka ia cabut dan menghentikan tilawah kemudian ia ruku’ dan membangunkan Ammar sambil sujud. Maka ketika Ammar menanyakan kenapa ia tidak membangunkannya sejak terlemparnya panahan yang pertama kali, ia pun menjawab :

“Sesungguhnya aku ketika itu sedang membaca satu surah dan aku tidak suka menghentikannya sampai aku menyempurnakannya, ketika terus menerus orang itu memanahku aku pun ruku’ dan membangunkanmu. Demi Allah, kalau bukan kerana takut menyia-nyiakan perintah Rasulullah saw untuk menjaga perbatasan, tentu aku sudah terbunuh sebelum aku menghentikan bacaan atau menyelesaikannya.”

BARAKAH AL-QUR’AN

Sesungguhnya, nilai keagungan Al-Qur’an itu terdapat pada makna-maknanya dan kemampuannya untuk :

  1. Mengadakan perubahan bagi pembacanya.
  2. Merancang kembali cara berfikir akalnya.
  3. Membangkitkan ruh dalam hatinya.
  4. Mendidik jiwanya agar tumbuh menjadi seorang yang alim kepada Allah.
  5. Beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan dengan bashirah mata hatinya.

Perkara di atas tidak akan benar-benar berlaku dengan hanya sekadar membaca sahaja, walaupun ia mengkhatamkannya beribu kali.

Ini diperkuatkan oleh para sahabat radhiyallahu anhum apabila dikatakan kepada Sayyidatina Aisyah ra :

“Sesungguhnya di antara orang-orang ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dua atau tiga kali dalam satu malam”, ia pun berkata: “Mereka membacanya tapi sebenarnya mereka tidak membaca, sungguh Rasulullah saw solat tahajjud semalam penuh, beliau membaca surah Al-Baqarah disambung surat Ali Imran dan surah An-Nisa’ tidak melalui satu ayat pun tentang khabar gembira kecuali ia berdoa pada Allah memintanya, dan tidak melalui satu ayat pun tentang ancaman kecuali ia berdoa agar dijauhkan darinya”.

Dari Abi Jasrah ia berkata, aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur’an dengan cepat dan aku mengkhatamkannya dalam tiga hari”.

Ibnu Abbas pun berkata:

“Sungguh, membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam kemudian aku mentadabburnya dan aku tartilkan bacaannya, lebih aku sukai daripada aku membaca seperti yang kamu katakan.”

Ibnu Mas’ud berwasiat :

“Janganlah kau membaca Al-Qur’an secepat kau membaca sya’ir, atau seperti buah kurma yang berguguran dari tangkainya, berhenti dan renungkanlah keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hatimu dengannya dan janganlah menjadikan akhir surah sebagai pusat perhatianmu.”

Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Imam Al-Ajri dalam bukunya ‘Akhlaq Hamalatil-Qur’an’ (Akhlaq Penghafal Al-Qur’an) :

“Sedikit mempelajari Al-Qur’an kemudian merenungkannya dan mentadabburnya lebih aku sukai daripada aku membaca banyak tanpa mentadabbur dan mentafakur, dan ayat-ayat Al-Qur’an dengan jelas menunjukkan demikian, begitu juga sunnah dan perkataan para pemimpin umat Islam”.

Imam Mujahid ditanya antara seseorang yang membaca surah Al Baqarah dan Ali Imran dengan seseorang yang membaca Al Baqarah sahaja dengan bacaan yang sama panjangnya, ruku’ mereka sama, dan sujud mereka sama, mana antara mereka yang lebih utama?

Imam Mujahid pun berkata :

“(Yang lebih utama) yang membaca Al Baqarah sahaja, kemudian ia membaca :

“Dan Al-Qur’an itu kami turunkan secara beransur-ansur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia.” (QS Al-Isra’ : 106)

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membaca dan mentadabbur Al-Qur’an sehingga ianya menambah kefahaman, memberi kesan kepada hati dan akhirnya mengubah kehidupan kami ke arah tujuan dan matlamat yang telah Engkau gariskan. Jauhkanlah kami dari sikap membaca secara harfiah semata-mata namun hati kami lalai dari memperhatikan dan merenung makna di sebalik ayat-ayat tersebut.

Ameen Ya Rabbal Alameen

WAS


 

Leave a comment

Filed under Tazkirah

Ghuraba’

Dipetik dari zadud-duat.blogspot.com

Oleh: Dr. Ahmad Hassan

Hadith nabi yang dikeluarkan oleh Imam Muslim daripada Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw telah bersabda:

“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan dagang atau asing, ia akan kembali menjadi dagang seperti mula dahulu. Maka berungtunglah orang yang menjadi dagang”.

Justeru siapakah orang yang dagang?..Mereka adalah orang yang berbeza dengan manusia lain. Mereka adalah orang yag berpegang teguh dengan manhaj Islam yang sebenar ketika ramai manusia yang mengabaikannya. Mereka adalah orang yang mempertahankan sunnah ketika manusia mengengkarinya. Mereka adalah orang yang memahami hakikat Islam dan kesederhanaan dakwahnya ketika manusia jahil tentangnya. Mereka adalah orang yang beristiqamah di atas jalan ketika manusia menyimpang darinya.

Ketika Rasulullah ditanya: “Siapakah orang yang dagang? Nabi menjawab? Orang-orang yang melakukan kerja pembaikan apabila manusia telah rosak”.

Di dalam riwayat lain nabi bersabda:

“Orang-orang yang melakukan kerja membaiki apa yang telah dirosakkan manusia selepas ku seperti merosakkan sunnahku.

Di dalam satu riwayat:

“Manusia yang solih  sedikit berbanding manusia yang majoritinya buruk. Orang yang melakukan maksiat lebih ramai daripada orang taat”.

Saya ingin menambah wahai saudaraku.. sesungguhnya keadaan dagang adalah sifat para nabi dan sunnah para rasul. Adakah anda pernah mendengar firman Allah swt:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah”. (An-Nahl: 120)

Ertinya hanya baginda seorang sahaja yang muslim sedangkan semua yang ada di muka bumi masih kafir. Menurut Ibn Abbas r.a: Supaya orang yang membawa kebenaran tidak berasa janggal ketika merasa diri mereka berseorangan, maka umat menjadikannya sebagai contoh teladan. Firman Allah:

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih”. (An-Naml: 56)

“Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu Hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” (Al-A’raf: 88)

Dan nabi Muhammad saw juga berkeadaan dagang semasa berada di Mekah. Orang-orang kafir berkata seperti yang diungkapkan dalam firman Allah:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya Ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”. (Shad: 5)

Lalu baginda telah berhijrah ke Madinah bersama para sahabatnya. Tentu anda dapat menyelami makna dagang semasa perjalanan hijrah ini, Ketika itu kaumnya merancang untuk menangkap dan membunuhnya. Firman Allah swt:

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Al-Anfal: 30)

Di dalam al-Quran banyak ayat yang membicarakan tentang keadaan orang-orang beriman yang sedikit. Mereka pada hakikatnya adalah dalam keadaan dagang. Firman Allah swt:

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. (Shad: 24)

“dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (Hud: 40)

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya”. (Yusof: 103)

“tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (Nya).”. (Al-Isra’: 89)

“dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”. (Saba’: 13)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Al-An’am: 116)

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”(Yusof: 106)

Saudaraku di jalan Allah..janganlah kalian berdukacita kerana keadaan mu yang dagang semasa bersama kaummu. Ini adalah sunnah Allah kepada para penggerak perubahan. Justeru percayalah bahwa kalian berada di atas jalan para nabi dan rasul.

Salah faham dan jawapan

Mereka mendakwa bahawa selagi keadaan dagang itu berlaku pada zaman yang telah lenyap nilai-ilai murni, maka beruzlah (memisahkan diri) menjadi wajib dan dituntut.

Perkara yang sebenarnya bukan begitu, kerana menyeru manusia kepada kebaikan ialah salah satu jalan untuk menghilangkan keadaan yang dagang atau asing. Ini kerana menambah bilangan orang yang bertakwa dan berpegang teguh dengan agama akan membuatkan pendokong kebatilan akan menjadi dagang atau asing pula di tengah-tengah pendokong kebenaran. Inilah yang sepatutkan dilakukan oleh setiap muslim yang faham.

Dengarlah kepada sabda nabi saw:

“Orang yang mendekati manusia dan menanggung kesabaran di atas penyiksaan mereka lebih baik dari orang yang tidak mendekati manusia dan tidak sanggup menanggung kesabaran di atas penyiksaan mereka”. (Tirmizi)

Jenis dagang

1. Dagang di muka bumi

Ini ialah dagang tubuh badan yang merupakan dagang secara fizikal seperti kita merantau ke suatu tempat yang asing. Ia tidak termasuk dalam topic yang kita bincangkan.

2. Dagang kerana agama.

Inilah perbincangan kita hari ini. Apa yang saya maksudkan wahai saudaraku yang dikasihi ialah sebuah hadith nabi saw yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari daripada Ibn Umar r.a:

“Rasulullah telah memegang dua belah bahuku sambil bersabda: “Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah kamu seorang dagang (asing) atau sebagai seorang yang melalui satu jalan”. Lalu Ibn Umar  berkata:  “Apabila kamu berada di waktu petang, janganlah kamu menunggu waktu pagi. Dan jika kamu berada di waktu pagi, janganlah kamu menunggu waktu petang. Manfaatkanlah kesihatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum datang kematianmu”.

Inilah keadaan dagang dari segi akhlak pada ketika para penggerak perubahan dihina dan penggerak kerosakan dimuliakan.

Inilah keadaan dagang bagi pendokong Islam yang berada di tengah-tengah pendokong agama lain.

Inilah keadaan dagang bagi kita sebagai pendokong dakwah yang sederhana yang berada di tengah-tengah masyarakat Islam.

Inilah keadaan dagang bagi pendokong sunnah yang berpegang teguh dengannya di tengah-tengah pendokong bidaah dan kesesatan .

Inilah keadaan dagang dari segi akhlak. Bukankah kalian pernah mendengar sabda nabi saw:

“Akan tiba suatu zaman ke atas manusia yang penuh penipuan. Di mana ia membenarkan orang yang dusta, mengatakan dusta kepada orang yang benar. Mengatakan amanah kepada orang yang khianat dan mengatakan khianat kepada orang yang amanah”. (Ahmad dan Hakim)

Bukankah kalian pernah mendengar sabda nabi saw:

“Akan tiba suatu masa di mana manusia saling berjanji setia kerana hampir-hampir tiada seorangpun yang menunaikan amanah sehingga ada yang berkata: Di dalam keluarga si fulan ada lelaki yang amanah”.  (Muttafaq Alaih)

Saya ingin menambah satu hadith:

“Kiamat tidak akan berlaku sehingga mereka saling terpegun semasa mereka berada di jalanan kerana melihat sesuatu sama seperti mereka terpegung kepada seekor keldai (yang cantik)”.  (Tabrani)

Inilah suasana dagang ketika permulaan Islam dan akan berakhir dengan dagang pada akhir zaman nanti selepas muncul Isa al-Masih, dan fitnah Dajjal, selepas keluar Ya’juj dan Ma’juj dan Allah utuskan angin yang meragut semua nyawa orang mukmin sehingga tiada lagi muslim yang tinggal.

Walaubagaimanapun saya ingin sampaikan berita gembira wahai saudaraku yang dikasihi, tidak akan berlaku keadaan dagang bagi Islam di muka bumi seluruhnya sebelum muncul tanda-tanda Kiamat yang besar berdasarkan firman Allah:

“Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. (As-Shoff: 9)

Rasulullah saw telah bersabda:

“Sentiasa akan ada sekelompok dari umatku yang sentiasa berjuang bersama-sama kebenaran, mencabar dan menentang musuh-musuh mereka. Musuh-musuh mereka tidak dapat memberi mudarat kepada mereka sehingga Allah mendatangkan keputusannya.Mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Ahmad)

Kesudahan orang yang dagang

Kemungkinan kalian telah mengetahui wahai saudaraku yang dikasihi dan sebagai seorang dagang bahawa Allah telah menyampaikan berita gembira melalui lisan nabiNya Muhammad saw:

“Maka beruntunglah (berbahagialah) orang yang dagang”.

Firman Allah juga:

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”. (Ar-Ra’du: 29)

Begitu juga sabda nabi saw:

“Berbahagialah kerana besarnya pohon di syurga menyamai berjalan selama seratus tahun dan pakaian ahli syurga keluar dari lengannya”. (Abu Daud dan Tirmizi)

Apakah jalan untuk memperolehi keuntungan itu?

1.      Berasa mulialah dengan keadaan dagangmu kerana ia suatu yang terpuji. Benar ianya terpuji kerana menyamai dagangnya perjuangan para nabi dan rasul.

2.      Menyanggahi kefahaman yang silap bahawa selagi berada di zaman yang dagang maka lebih baik memisahkan diri dari kerosakan. Tidak benar, kerana Islam telah bermula dalam keadaan dagang atau asing, kemudian masih dagang, kemudian kembali dagang sekali lagi dan masih dagang untuk kali kedua seperti yang pertama.

3.      Mencapai kesempurnaan iman dan mengikat hati dengan Allah kerana ianya merupakan akidah dan kefahaman yang benar dan sejahtera.

4.       Dirikan Negara Islam pertama-tama di dalam hatimu dan laksanakan syariat Islam di dalam keluargamu. Memerintahkan orang lain melaksanakannya adalah perkara kedua. Oleh yang demikian kalian tidak akan merasa janggal menjadi dagang dalam keadaan sekarang. Bukankah Allah telah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya”. (An-Nisa’: 136)

5.      Bekerjalah bersama saudaramu di jalan Allah..kerana bersama mereka dan dengan mereka akan menghilangkan rasa dagang atau asing.  Saya bersaksi dengan keagungan Allah bahawa semasa saya bersama saudara-saudara saya di jalan Allah maka saya merasa tenang dan lapang dada..Mereka berada di atas jalan yang sama denganmu..sama dengan kefahamanmu..sama di atas manhajmu. Kepada Allah Ibn Qayyim al-Jawziyyah berserah sambil berkata:“Apabila kami merasa sempir dada, bersangka buruk serta dunia menjadi gelap, maka kami segera mendapatkannya (iaitu gurunya Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah). Tidaklah kami melihatnya, duduk bersamanya dan mendengar nasihatnya  melainkan kesempitan kami menjadi lapang dan kedukaan kami menjadi kegembiraan!!” Saya telah merasai makna perkataan-perkataan ini bersama saudara-saudaraku di jalan Allah kerana bersama mereka dan dengan mereka keadaan dagang menjadi lenyap.

Kesudahan bagi kita ialah pujian hanya bagi Allah. Selawat dan salam ke atas Rasulullah, keluarganya dan sahabatnya.

Terjemahan dari http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=61710&SecID=363

Leave a comment

Filed under Tazkirah

Pengampunan dosa

Dipetik dari zadud-duat.blogspot.com

Oleh: Dr. Ahmad Hassan

Marilah kita perhatikan sejenak doa orang-orang yang mempunyai hati. Firman Allah:

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali-Imran: 193)

Takfir az-zunub: ialah penghapusan dosa secara keseluruhan atau penghapusan sebahagiannya kerana tiada lagi yang tinggal sebagai satu kurniaan atau kemuliaan dari Allah.

Manakala maghfirah az-zunub: Pencegahan dan perlindungan keburukan dosa dengan menutupinya atau melindunginya sebagai keampunan atau rahmat dari Allah. Namun ianya tertulis di dalam buku catatan seorang hamba..ianya disebut oleh Allah tanpa hisab ke atasnya.

Istighfar ialah doa untuk memohon keampunan, sama seperti semua doa bergantung dengan kehendak Allah sama ada diterima atau tidak diterima Allah.

Istighfar adalah perkataan yang mutlak yang dikaitkan di dalam ayat 135 Surah Ali-Imran:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui”. (Ali-Imran: 135)

Istighfar dituntut dilakukan setiap masa kerana mudah-mudahan ianya bertepatan dengan waktu-waktu yang mustajab.

Perhatikanlah ucapan A’isyah r.a: “Beruntunglah orang pada dirinya sering beristighfar”.

Kemudian saya sampai khabar gembira dari kenyataan nabi saw, daripada Abdullah bin Abbas r.a berkata, bahawa nabi saw telah bersabda:

Orang yang sering beristghfar, Allah akan menjadikan untuknya setiap kedukaan akan ada penyelesaian, setiap kesempitan akan ada jalan keluar. Allah akan mengurniakan rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka”.

Lapan perkara atau sebab yang dapat menghapuskan dosa:

1.      Doa yang diserta penuh pengharapan

2.      Istighfar

3.      Tauhid

4.      Sesuatu kejahatan disusuli dengan kebaikan

5.      Sesuatu musibah dapat menghapuskan dosa

6.      Menjauhi dosa-dosa besar

7.      Syafaat nabi di hari akhirat ke atas umatnya yang melakukan dosa besar

8.      Neraka Jahannam kepada orang yang membersihkan dirinya daripada tujuh dosa besar.

Tiga sebab yang pertama telah dihimpunkan dalam sebuah hadith Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi. Menurutnya ia hadith Hassan. Daripada Anas r.a berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah swt telah berfirman: “Wahai anak Adam, sekiranya engkau berdoa dan memohon kepadaKu, nescaya Aku ampuni dosa yang engkau ada. Wahai anak Adam, sekiranya dosa engkau sampai memenuhi ufuk langit kemudian memohon ampun padaKu, nescaya tetap Aku ampuni dosa engkau. Wahai anak Adam, sekiranya engkau dating kepadaKu dengan kesalahan yang hampir sebesar bumi kemudian engkau tidak pernah menyekutukanKu dengan sesuatu, nescata Aku tetap memberi keampunan kepada engkau”.

 

Sebab yang keempat terdapat di dalam sebuah hadith Rasulullah saw dari riwayat Abu Zar melalui Imam Tirmizi. Menurutnya hadith Hassan:

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, susulilah sesuatu kejahatan dengan perkara kebaikan kerana ia akan menghapuskan dosanya dan bergaullah dengan akhlak yang mulia”.

Bermaksud: Jikalau engkau melakukan sesuatu kejahatan atau keburukan, maka susulilah dengan melakukan sesuatu kebaikan atau amal soleh, kerana ianya akan menghapuskan dosa kejahatan itu. Para ulamak berbeza pendapat, adakah maksud kebaikan yang menyusuli sesuatu kejahatan itu ialah taubat, seolah-olah ia berkata: Jikalau berbuat suatu kejahatan segeralah bertaubat, atau melakukan kebaikan yang lain?

Pendapat yang tepat ialah yang kedua, iaitu perbuatan baik boleh menghapuskan kejahatan sekalipun tidak bertaubat berdasarkan dalil di dalam firman Allah:

“Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (Hud: 114)

Seorang lelaki bertanya Nabi saw di mana dia telah mendapat satu kucupan daripada seorang wanita yang dikira sebagai zina (kecil). Beliau telah menunaikan solat subuh bersama mereka. Lalu baginda telah bertanya: Adakah engkau telah menunaikan solat subuh bersama kami?. Lelaki itu menjawab: Ya. Lalu baginda membacakan ayat ini:“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”yang menjadi dalil bahawa sesuatu kebaikan menghapuskan dosa kejahatan sekalipun tidak bertaubat.

Oleh itu, ayuhlah wahai orang-orang yang melakukan kejahatan segeralah melakukan kebaikan, janganlah menangguh-nangguhkannya..

 

Sebab kelima dijelaskan oleh nabi saw seperti yang diriwayatkan oleh Abu said al-Khudri dan Abu Hurairah r.a:

“Tiada sesuatu musibah yang berlaku ke atas seorang muslim seperti kecelakaan, penderitaan, kedukaan, kesempitan, kesakitan dan kesedihan melainkan Allah akan menghapuskan segala kesalahan-kesalahannya”. (Muttafaq alaih)

Hanya dengan kesabaran menanggung musibah tersebut Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu.

Sebab keenam: Jelas seperti yang dinyatakan di dalam firman Allah:

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (An-Nisa’: 31)

Hanya dengan niat kamu ingin menjauhi dosa-dosa besar nescaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil. Dosa-dosa besar kekal tidak diampuni selagi belum bertaubat nasuha.

Sebab ketujuh: Syafaat nabi saw kepada umatnya yang melakukan maksiat. Daripada Anas bin Malik dari nabi saw yang bersabda:

“Syafaatku (di hari Kiamat) kepada umatku yang melakukan dosa-dosa besar”. (sahih)

Ini adalah satu kemuliaan dari nabi saw. Justeru kita memohon agar Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang mendapat syafaatnya iaitu yang memiliki kedudukan yang mulia di sisi Tuhan. Allah swt sekali-kali tidak akan membiarkan kekasihnya pada hari Kiamat nanti.

 

Saudaraku yang dikasihi..Seandainya kamu tidak memperolehi tujuh perkara di atas, maka tiada yang lagi peluang melainkan yang kelapan..iaitu neraka Jahannam (na’uzubillah min zalik) yang akan membersihkan dosa-dosanya sehingga apabila telah disuci dan dibersihkan barulah dapat memasuki syurga dalam keadaan suci bersih tanpa sebarang dosa. Sudah tentu bagi orang yang berakal tidak akan berasa gembira di atas kelewatannya memasuki syurga kerana ai dunia hanya satu bahagian daripada 70 bahagian dari api jahannam..neraka telah dinyalakan selama seribu tahun sehingga menjadi kemerahan..kemudian dinyalakan selama seribu tahun sehingga menjadi keputihan, kemudian dinyalakan sehingga menjadi kehitaman. Justeru neraka Jahannam sekarang tentulah dalam keadaan gelap pekat.

Kini telah tiba hari-hari yang baik untuk kita dan Allah telah muliakan kita dengan ketibaannya..Adakah kita telah menyediakan diri untuk bertaubat? Allah adalah disebalik semua yang berlaku.

Terjemahan dari  http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=52570&SecID=363

 


Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah

Kebahagian :D

Kata mereka:

Kebahagiaan terletak pada sikap berdiam diri, pada malu dan kebekuan.

Pada hidup bersama famili, dan bukannya hidup orang berhijrah dan terusir.

Pada berjalan di belakang kenderaan mewah dan dengan langkah yang longlai.

Pada ikut sahaja apa yang orang katakan, tanpa tentangan dan konfrantasi.

Pada ikut sahaja ke mana rombongan bergerak, kamu dipimpin, bukan memimpin.

Pada hanya bersorak untuk setiap pemerintah: hidup kamu… selama-lamanya….

Aku pula berkata:

Hidup ini adalah gerakan, bukan diam dan bukan kaku.

Hidup adalah jihad, akan berjuangkah orang yang hanya duduk berpeluk tubuh?

Hidup adalah menikmati lazatnya susah, bukan bersedap-sedap dengan tidur.

Ia adalah membela hak, merdekakah orang yang tidak membela haknya?

Hidup adalah kamu merasa kehinaan itu laksana air nanah.

Hidup ialah kamu hidup sebagai khalifah di bumi, tugas kamu memimpin.

Kamu boleh berkata ‘NO’ dan ‘YES’, apabila kamu mahu dengan pandangan yang tajam!

 

– Karangan Dr Yusuf Qardhawi, untuk majalah at-tarbiyah islamiyah. Ia telah dimuatkan dalam buku Al-Muntalaq karangan Sheikh Ahmad Rashid.

Leave a comment

Filed under Renungan, Tazkirah